"Prioritas kita adalah bagaimana menyejahterakan masyarakat, sehingga jika ada proyek-proyek yang sifatnya mercusuar bisa ditunda dan didahulukan pemenuhan kebutuhan dasar manusia Indonesia," kata Alwi seusai memberikan pidato kehormatan pada Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia di Pusat Studi Jepang Kampus UI, Depok, Selasa (12/7).
Ia mencontohkan, misalnya ada rencana pembangunan air mancur di suatu daerah, namun menurut ahli Antropologi ada kantong-kantong kemiskinan di sekitar tempat itu yang kekurangan air bersih, maka pembangunan fasilitas air bersih untuk masyarakat tersebut yang didahulukan.
Alwi mengatakan, ia telah mendengar dan akan menengok sebuah daerah di Parung, Bogor yang kabarnya sangat miskin, sehingga anak-anaknya terpaksa menjual diri untuk mendapatkan penghasilan.
Jika kondisnya didengar oleh pengambil keputusan, maka penanganannya akan menjadi prioritas.
Ia berencana mengajak partisipan simposium internasional Antropologi itu yang berasal 20 negara untuk pergi melihat daerah-daerah yang bermasalah, sehingga ketika mereka pulang akan memiliki rekomendasi yang baik agar pemerintahnya dapat membantu Indonesia.
Ia mengharapkan, dari simposium tersebut ada rekomendasi yang dapat menjadi pertimbangan, pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan pemerintah.
Globalisasi, katanya, harus dimanfaatkan untuk meringankan beban orang-orang yang miskin.
Alwi mengatakan, akademia dan pengambil keputusan harus selalu bersinergi, hasil riset para akademia diberikan kepada pemerintah yang kemudian akan mengimplementasikan sesuai kemampuan dan kebijakannya. (*/bun)