Ketua bidang kompetisi PSM Makassar Drs H Anas Genda di Makassar, Selasa, mengatakan, tim pengelola PSM Ligina XI 2005 tidak lagi memiliki dana. Kas pengelola sudah nihil, karena itu, PSM kini sudah bangkrut bahkan terancam bubar.
Solusi, untuk menyelamatkan PSM yang sudah diambang kehancuran adalah uluran tangan masyarakat agar turut membantu mengatasdi kesuliotan finansial demi mempertahankan keberadaan tim kebanggaan masyarakat Sulsel ini.
Tanpa partisipasi masyarakat, mustahil PSM bisa bertahan. Sebab itu, untuk mempertahankan PSM agar tetap ikut pada kompetisi Ligina 2006 masyarakat diimbau untuk turut berpartisipasi membantu mengatasi kesulitan dana yang dialami tim pengelola, ujar Anas yang juga Wakil Ketua komisi C DPRD Sulsel.
DPRD Sulsel, kata dia telah mengalokasikan dana APBD untuk PSM pada musim kompetisi 2005 sebesar Rp1 miliar, sedangkan dari APBD Kota Makassar Rp2 miliar, pihak sponsor Rp300 juta serta dana dari PT Semen Bosowa.
Pada setiap musim kompetisi PSM membutuhkan dana sekitar Rp10 miliar, sedangkan total biaya yang telah dikeluarkan tim pengelola hingga saat ini telah mencapai Rp9 miliar, sementara pertandingan masih berlangsung.
Pengeluaran PSM terbesar adalah gaji pemain mencapai Rp500 juta setiap bulan, biaya konsumsi Rp30 juta/bulan, biaya sekali pertandingan tandang Rp100 juta, pengeluaran setiap pertandingan Liga Champions Asia (LCA) Rp200 juta serta bonus pemain Rp100 juta.
Sementara hasil pemasukan penjualan karcis tanda masuk yang mencapai Rp80 juta hingga Rp100 juta setiap pertandingan habis untuk membiayai kegiatan pertandingan yang meliputi sewa stadion, lampu penerangan, biaya pengamanan dan kegiatan lainnya.
Menurut Anas, untuk mengatasi krisis finasial yang dialami PSM, maka pengelola sedang memikirkan untuk menjual karcis undian. Rencana tersebut dalam waktu dekat akan disosialisasikan ke masyarakat dan melibatkan berbagai unsur terkait.
peredaran karcis undian tersebut sementara dipikirkan bersama untuk menetapkan bentuknya. Sosialisasi ke masyarakat sangat penting agar peredaran karcis berhadiah tersebut tidak dianggap sebagai kegiatan judi, tetapi dalam bentuk partisipasi masyarakat mendukung kemajuan PSM Makassar sebagai tim sepakbola kebanggaan yang lahir dari masyarakat dan untuk masyarakat, kata Anas. (*/rit)