Ini (penculikan) adalah penculikan tingkat-tinggi kedua bulan ini setelah penculikan duta besar Mesir Ihab al-Sharif pada 2 Juli dari sebuah jalan di Baghdad. Utusan itu kemudian dibunuh.
Diplomat Aljazair itu dikenali sebagai Ali Belaroussi, kuasa usaha, yang telah berada di Irak selama hampir dua tahun, dan Ezzedin Ben Kadi, kata seorang diplomat Aljazair.
"Saya berada di sisi lain jalan utama itu ketika saya melihat orang dalam dua mobil menarik kedua diplomat itu keluar dari mobil land cruiser mereka dan membawa mereka," kata diplomat Aljazair Abdel Wahab Fellah.
"Saya tidak dapat berbuat apa-apa, saya hanya memanggil polisi," katanya.
Penculikan itu terjadi di distrik Al-Mansur di barat Baghdad pada pukul 14.10 waktu setempat. Diplomat itu dibuntel secara terpisah ke dalam bagasi mobil penculik, kata seorang pejabat kemanterian dalam negeri.
Seorang pejabat polisi, yang berada dalam sebuah pondok menjaga kedutaan besar Oman yang berdekatan, mengatakan ia dan rekannya, yang diberi tanda oleh orang yang lewat, bergegas keluar dan menembak dua mobil itu saat mereka berusaha meloloskan diri dengan delapan pria bersenjata.
"Kami melepaskan tembakan tapi mereka telah menjauh," kata polisi itu.
Mobil itu memiliki plat nomor dari provinsi Al-Anbar, markas gerilyawan di Irak barat, katanya menambahkan.
Penculikan utusan Mesir telah diklaim oleh Abu Musab Al-Zarqawi, wakil Al-Qaidah di Irak, yang kemudian mengumumkan pembunuhannya.
Dalam beberapa hari penculikan Sharif, utusan Bahrain luka-luka akibat penculikan yang gagal, sementara duta besar Pakistan ditembak dan mobil dubes Rusia berlubang-lubang dengan peluru.
Sejumlah pejabat mengatakan, gerilyawan Irak menyerang diplomat untuk mengucilkan pemerintah Irak dan meminta negara Arab untuk tidak meningkatkan tingkat wakil diplomatik mereka.
Menlu Irak Hoshyar Zebari, yang akan mengadakan pertemuan dengan duta besar Irak yang ditempatkan ke negara Arab dan Asia, mengatakan pada wartawan sebelum berita itu, bahwa mereka akan membicarakan kebijakan mereka terhadap saudara Arab mereka dan membahas serangan belakangan ini pada diplomat asing di Baghdad serta bagaimana menghadapinya secara diplomatik.
Sementara itu, pemerintah Irak merencanakan untuk mengajukan rancangan konstitusi pada parlemen 1 Agustus, dua pekan sebelum batas waktu yang ditentukan. Jika disetujui oleh parlemen, konstitusi itu akan diajukan untuk referendum 15 Oktober.
Pemerintah mengatakan piagam itu akan siap meskipun ada pembunuhan Selasa atas dua dari anggota Arab Sunni di panel itu, insiden yang menyebabkan pengunduran diri empat lainnya.
Pembunuhan Dhamin Hussein dan Aziz Ibrahim, dua dari 17 Arab Sunni yang mengejakan konstitusi itu, menimbulkan bayang-bayang pada kesempatan komite itu untuk menghasilkan dokumen tersebut sebelum 15 Agustus. (*/bun)