< >

Hutan Pendidikan Gunung Walat Percontohan Penyelamatan Hutan

Sabtu, 03 September 2005 15:28
Kapanlagi.com - Laju kerusakan hutan di Indonesia yang kian mengkhawatirkan yakni mencapai 2,8 juta hektar per tahun atau setara dengan enam kali lapangan sepakbola per menit mengharuskan perlunya sinergi bersama guna melakukan ikhtiar-ikhtiar penyelematan.

"Untuk ikhtiar (penyelamatan hutan) itu, maka siapa saja bisa mempelajari cara-caranya di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang dikelola Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan-IPB)," kata Ketua Departemen Silvikultur Fahutan IPB, Dr Ir Irdika Mansur, M.For.Sc di Gunung Walat, yang diapit Kecamatan Cibadak dan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat petang.

Hal itu disampaikan pada penutupan acara "Konservasi Hutan Untuk Kesejahteraan dan Kesehatan Masyarakat" yang berlangsung selama dua hari (1-2/9) di HPWG Gunung Walat, yang diadakan HPWG, Fahutan IPB dan Media Forum Nestle Indonesia.

Kegiatan yang diikuti 30 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia dan juga beberapa wakil mahasiswa pascasarjana dari Universitas Negeri Papua (UNIPA) itu diadakan guna memberikan wacana kepada kalangan media massa untuk ikut bersama-sama membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga hutan bagi kehidupan umat manusia.

Menurut Irdika Mansur --yang sebelumnya adalah Direktur HPWG--dengan berbagai pendekatan keilmuan yang diterapkan, akhirnya hutan di Gunung Walat, yang semula tidak terawat, kini selain mulai mengembalikan ekosistem hutan yang ideal, kini nyata-nyata sudah melahirkan sumber-sumber air, seiring dengan membaiknya kondisi hutan seluas 359 hektar itu.

Tak hanya itu, kata dia, dengan konsep "Agro-Silvo-Medica", yakni memadukan antara pertanian, kehutanan dan tumbuh-tumbuhan untuk obat-obatan, maka HPWG kian berkembang dengan kemajuan-kemajuan yang dapat mensejahterakan rakyat di sekitar hutan.

"Dengan konsep itu, maka masyarakat sekitar tidak saja menjadi penjaga hutan itu sendiri, namun dikembangkan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan aneka usaha menanam tanaman pertanian dan obat-obatan disela-sela tanaman hutan," katanya.

Perbaikan taraf hidup

Sementara itu, Odin (34) salah satu warga Desa Citalahat, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan --yang berada di sekitar area HPWG--mengakui bahwa sejak dikembangkannya hutan masyarakat oleh HPWG IPB, masyarakat di daerah itu mengalami perbaikan taraf hidup.

"Selain berkebun dan menanam pohon hutan, kami juga dikenalkan dengan pengembangan peternakan domba dan kelinci dengan benar, tentu saja hasilnya dapat meningkatkan pendapatan warga desa," katanya.

Ia mengaku bahwa dengan program HPWG, terlebih dengan melibatkan warga sejak dari perencanaan, maka masyarakat juga kian mengerti akan arti penting dari menjaga hutan, sehingga kini dapat mengembangkan usaha lainnya.

Sedangkan Direktur HPWG, Dr Ir Suprianto, MSc menambahkan bahwa upaya untuk memberikan pemahaman agar hutan benar-benar terjaga dan lestari, juga dikembangkan dengan pendekatan spiritual.

"Hal yang selalu kita sampaikan adalah bahwa menanam pohon itu adalah sebuah `amal jariyah` yang tidak putus-putusnya, karena manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi yang akan datang," katanya.

Sementara itu, Kepala Humas Nestle Indonesia, Brata T Hardjosubroto mengemukakan bahwa Media Forum yang digagas pihaknya, yang kali ini bekerjasama dengan Fahutan IPB dengan bermalam di HPWG dan menyatu dengan alam langsung itu, adalah sebuah fenomena baru.

"Kegiatan ini, bukan untuk siapa-siapa, namun yang paling esensial adalah untuk ikut bersama-sama membangun kesadaran baru mengenai pentingnya menyelamatkan hutan bagi umat manusia," katanya. (*/erl)