Hal itu diungkapkan seorang guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar, Bali Prof Dr Wimpie Pangkahita pada seminar sehari masalah seksualitas dan Reproduksi di Muara Teweh kabupaten Barito Utara (Barut) Kalimantan Tengah, Minggu (4/9).
Seminar sehari masalah seks yang menghadirkan pembicara dari para pakar seks yang dibuka Wakil Bupati Barut Drs Oemar Zaki Hebanoedin ini digelar oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang kabupaten Barut bekerja sama dengan Pemkab setempat.
Menurut Wimpie, pada seminar yang dihadiri 400 orang undangan tersebut mastubarsi yang dilakukan pria sampai mencapai orgasme dilakukan sekitar 95% dari seluruh pria.
Semakin tinggi pendidikannya ternyata prosentasenya semakin tinggi dan yang menarik, hasil penelitian Kisey, yang menyatakan 53,8% pria yang tidak menikah, masih melakukan onani pada usia 50 tahun.
"Frekwensi tertinggi melakukan mastubarsi dilakukan 23 kali seminggu oleh para remaja yang berusia 12-15 tahun," kata pemilik Klinik Seksualitas dan Reproduksi Grasia Denpasar, Jakarta ini.
Sementara itu berdasarkan laporan penelitian Hite di Amerika Serikat menunjukan 99% pria pernah melakukan mastubarsi dan 82% wanita juga pernah melakukannya.
Bagi wanita yang belum menikah mastubarsi merupakan salah satu cara pemuas disamping bercumbu dengan lawan jenisnya, sedangkan bagi wanita yang sudah menikah onani juga dapat merupakan cara pemuas disamping hubungan seksual.
Berbeda dengan pria yang sesudah usia belasan tahun semakin menurun prekwensinya dalam melakukan mastubarsi, maka pada wanita justru meningkat sampai usia pertengahan.
Diantara wanita yang tidak pernah melakukan mastubarsi sebelum menikah ternyta 31-37% gagal melakukan orgasme selama melakukan hubungan seksual pada tahun pertama perkawinannya.
Sedangkan diantara wanita yang pernah melakukan mastubarsi sebelum menikah hanya 13-16% yang gagal mencapai orgasme selama melakukan hubungan seksual pada tahun pertama perkawinannya.
Menurut pakar dari Pusat Studi Andrologi dan Seksologi ini sebenarnya mastubarsi adalah suatu perbuatan yang sangat manusiawi artinya wajar kalau orang melakukannya, bahkan salah satu fase dalam perkembangan psikoseksual anak yaitu fase phallus sesungguhnya adalah suatu bentuk mastubarsi.
Secara sadar perbuatan ini dilakukan setelah manusia menjadi remaja dan dewasa oleh hampir 100% pria dan sekitar 70-80% wanita, bahkan salah satu cara untuk mengatasi hambatan orgasme pada wanita ialah melakukan program mastubarsi.
Bagi meraka yang merasa terganggu dengan kebiasaan melakukan mastubarsi dan ingin menghilangkan kebiasaan itu, kata Wimpie ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya harus mempunyai kemauan kuat dnegan alasan yang kuat pula.
Kemudian menghindari rangsangan seksual baik yang bersifat fisik maupun psikik dan melakukan kegiatan yang positif baik fisik maupun mental.
"Bagi mereka yang menganggap mastubarsi merupakan suatu perbuatan dosa, seharusnya tidak melakukan lagi dan kalau tidak mereka akan selalu dihantui perasaan tersebut," kata Wimpie Pangkahila. (*/bun)