Dalam aksi itu, selain menyandera mobil tank dan memblokir ruas Jalan AP Pettrani, sehingga menimbulkan kemacetan arus lalu lintas. Menurut mahasiswa, kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM bukan suatu solusi yang tepat untuk memperbaiki kondisi perekonomian negara, malah akan lebih memperburuk dan menyengsarakan rakyat.
Kenaikan harga BB pada 1 Maret 2005 lalu katanya, dinilai sudah cukup melumpuhkan kehidupan ekonomi rakyat kecil.
Retorika politik pemerintah untuk mengelabui pikiran rakyatnya demi membenarkan segala kebijakan yang ditetapkanya dianggap sebagai hanya melukai perasaan rakyat, kesengsaraa dan penderitaan yang lebih mendalam.
Dalam orasinya, koordinator lapangan, Irfan mengatakan, dana kompensasi BBM yang disalurkan pemerintah hingga hari ini tak kunjung datang terutama di sektor pendidikan dan raskin.
Dalih pemerintah untuk menjustifikasi kebijakan tersebut, lagi-lagi katanya karena defisitnya APBN serta akibat dari kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.
Untuk menggolkan rencana kebijakannya untuk menaikkan harga BBM pada Oktober 2005 nanti, pemerintah berdalih karena APBN mengalami defisit 48,6 triliun dan sebagai langkah penyelematan agar tetap aman adalah harga BBM harus dinaikkan melalui pencabutan subsidi yang katanya dinilai menguras APBN, ditambah dengan anjloknya kurs rupiah terhadap dollar.
Selain itu, mereka juga mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dasn Wapres Jusuf Kalla untuk segera melakukan reshuffle terhadap menteri kabinetnya, terutama tim ekonomi karena dinilai gagal menjalankan tugasnya dalam memperbaiki kondisi perekonomian bangsa. (*/erl)