"Pemusnahan masalah tergantung kasus dan tempatnya," kata Mentan usai rapat terbatas mengenai kasus flu burung yan dipimpin oleh Presiden Susilo Bamban Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/9).
Selain Mentan, hadir pada rapat tersebut antara lain Menko Kesra Alwi Shihab, Menkes Siti Fadilah Supari, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Mentan mengatakan bahwa pemusnahan massal ternak akan dilakukan pada peternakan yang tingkat infeksinya tinggi yakni minimal 20% dari jumlah ternak.
Pemerintah, katanya, akan mengganti bibit dan biaya pakan yang telah dikeluarkan oleh peternak yang ternaknya dimusnahkan.
Ditanya apakah sudah ada peternakan yang tingkat infeksinya tinggi, Anton mengatakan bahwa sejak Agustus hingga saat ini baru ada satu peternakan yang diduga tingkat infeksinya tinggi yakni di Badung. Namun, katanya, kasus itupun belum dikonfirmasi dengan baik mengenai kebenarannya.
Sementara itu, jika unggas yang terinfeksi berada di kebun binatang maka pemusnahan dilakukan secara selektif. "Tidak semua (dimusnahkan), kata Mentan, tanpa menyebutkan kriteria unggas di kebun binatang yang akan dimusnahkan.
Pemusnahan unggas yang terinfeksi flu burung yang berada di perumahan juga dilakuan dengan seletif.
Ditanya apakah pemusnahan akan dilakukan pada radius tertentu dari lokasi yang terinfeksi virus flu burung, Mentan mengatakan, tidak ditetapkan radius tertentu.
Alasan Mentan adalah permasalahannya kompleks serta mempertimbangkan masalah sosial.
Ia memberi contoh, pada saat akan dilakukan pemusnahan massal pada peternakan babi yang terinfeksi virus flu burung dan di daerah sekitarnya di Tangerang beberap waktu lalu, ternyata mendapat hambatan dan penolakan dari masyarakat.
Ditanya kemungkinan pemberian sanksi kepada peternakan atau masyarakat yang tidak mau ternaknya dimusnahkan, Anton mengatakan bahwa menurut undang-undang yang berlaku hal itu belum dimungkinkan.
Ia mengatakan bahwa pemusnahan massal unggas yang terinfeksi virus flu burung tersebut cukup sulit karena lokasi peternakan unggas terpencar. Hal itu berbeda dengan peternakan di Belanda yang terkonsentrasi di daerah tertentu.
Mengenai unggas, terutama burung liar yang bisa menjadi penyebar virus flu burung, Anton mengatakan bahwa hal itu memang sulit di atasi.
Untuk itu, katanya, yang terpenting masyarakat harus melakukan "biosecurity" serta memperhatikan kebersihan dan kesehatan ternak maupun diri sendiri. "Itu yang bisa mengurangi resiko," katanya. (*/dar)