< >

G7 Ambil Tindakan Perangi Kenaikan Harga Minyak

Minggu, 25 September 2005 12:18
Kapanlagi.com - Negara-negara Kelompok Tujuh bergerak Jumat untuk memerangi kenaikan harga minyak, menyepakati pengiriman delegasi ke negara-negara penghasil-minyak guna mempelajari masalah pasokan dan permintaan dan menyerukan investasi lebih dalam infrastruktur dan pengilangan, sumber-sumber G7 mengatakan di sini.

Seorang pejabat Eropa mengatakan delegasi itu akan memulai misinya pada pertengahan Oktober dan akan terdiri dari Menteri Keuangan Perancis Thierry Brenton, rekan Inggrisnya Gordon Brown dan kemungkinan besar wakil menteri keuangan AS.

Lonjakan kilat harga minyak hingga ketinggian yang memusingkan telah menyebabkan ketidaktenangan mendalam diantara kekuatan industri utama, yang perekonomian haus-energi mereka beresiko melambat karena harga minyak mentah yang lebih mahal dan inflasi yang menyertainya.

"Negara-negara penghasil-minyak harus memastikan suatu iklim investasi yang lebih menguntungkan, membuka pasar dengan praktik bisnis yang transparan, dan kerangka kerja peraturan yang stabil," para menteri G7 - dari Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat - mengatakan dalam draf pernyataan yang didiskusikan pada pertemuan sehari di sini.

Para menteri tersebut juga akan menyimpulkan bahwa "investasi yang signifikan dibutuhkan dalam eksplorasi, produksi, infrastruktur energi dan kapasitas pengilangan."

Mereka sebagai tambahan akan menyerukan supaya lebih transparannya data minyak agar lebih baik menaksir peran para spekulan dalam mendorong harga minyak mentah hingga ketinggian sekarang ini di atas US$ 70 per barel, menurut draf pernyataan itu.

Namun retorika G7 lalu tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengendalikan harga minyak, yang terus naik karena permintaan yang besar dan hambatan pasokan yang telah diperburuk dengan dampak terhadap produksi AS oleh dua topan - pertama Katrina dan sekarang Rita.

Pengiriman delegasi disetujui berkat rekomendasi Brenton dan Brown, yang telah menyerukan kepada para produsen minyak agar lebih bertindak untuk menurunkan harga minyak mentah dari rekor tinggi baru-baru ini.

Detail tentang negara mana yang akan mereka kunjungi tidak segara tersedia. Negara-negara G7 bertanggungjawab atas separuh konsumsi minyak global.

Sebelum pertemuan G7, Brenton mengatakan delegasi yang diusulkan itu akan menganalisa tingkat dalam negara-negara penghasil-minyak, yang ia katakan sulit diukur dan dengan demikian mengundang spekulasi yang tak diinginkan dari para investor.

"Hari ini kami tidak mempunyai cukup visibilitas mengenai permintaan dan pasokan yang secara konstan meningkat, dimana kami kesulitan menentukan pada saat ini," Ia mengatakan Senin.

"Kami membutuhkan visibilitas, apabila bukan yang lainnya, supaya pasar berhenti menjadi hiper-spekulatif."

Brenton mengatakan para investor yang menyumbangkan bagi fluktuasi harga minyak mendadak, secara sukarela bila tidak, "harus memikul tanggungjawab mereka untuk mengurangi volatilitas."

Mengembangkan gagasan ini, sebuah sumber yang dekat dengan kementerian keuangan Perancis mengatakan Paris akan mengusulkan peraturan tentang pasar minyak yang lebih besar pada pertemuan G7 tersebut.

"Menteri ingin berbicara dengan para koleganya tentang kenyataan bahwa pasar minyak tidak diatur dan oleh karena itu sensitif terhadap aksi para spekulan.

"Menteri sangat lekat dengan gagasan tentang upaya pertama untuk mengatur pasar ini," Sumber tersebut mengatakan.

Kebanyakan pengamat sepakat bahwa peningkatan permintaan produk minyak, dipimpin oleh Amerika Serika dan China, terkombinasikan dengan kapasitas pengilangan yang terenggang akan membawa harga minyak mentah meroket ke ketinggian akhir-akhir ini di atas US$ 70 per barel.

Namun sejumlah komentator juga telah menunjuk pada hedge fund, perusahaan investasi yang mencoba untuk mengambil keuntungan maksimal melalui spekulasi beresiko-tinggi di pasar. (*/erl)