< >

Tanigaki: Reformasi Mata Uang Cina 'Dibelokkan' Juli

Minggu, 25 September 2005 13:19
Kapanlagi.com - Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki mengatakan bahwa reformasi mata uang China 'dibelokkan' Juli dengan revaluasi mata uang yuannya dan menekankan perlunya mengawasi langkah Beijing ke arah reformasi lebih lanjut.

Berbicara pada konferesi pers pada Jumaat sesudah pertemuan sehari para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Kelompok Tujuh, Tanigaki mengatakan, "Atmosfir keseluruhan pertemuan adalah bahwa (G7) harus mengawasi implementasi China (menyangkut langkah Julinya) untuk sementara waktu."

China pada 21 Juli membatalkan sistem tukarnya yang terpatok-dolar yang sudah berjalan beberapa puluh tahun dan menggunakan sistem pengambangan terkendali dikaitkan dengan sekeranjang mata uang asing, menghasilkan revaluasi yuan 2,1% terhadap dolar AS.

G7 menyambut baik langkah tersebut dalam sebuah pernyataan yang disiarkan setelah pertemuan tersebut.

Mengenai serangkaian langkah yang diadopsi oleh G7 guna mengatasi lonjakan harga minyak mentah, Tanigaki menekankan pentingnya itu. "Kami dapat membahas tanggapan yang sesuai terhadap situasi sekarang," ia mengatakan.

G7 menyerukan peningkatan investasi dalam eksplorasi, produksi dan kapasitas pengilangan minyak serta upaya konservasi energi dan sumber-sumber terbarukan dan alternatif.

Sementara itu, Gubernur Bank Jepang Toshihiko Fukui, yang juga menghadiri konferensi pers, mengindikasikan ia akan secara ketat memonitor gerakan di pasar komoditas, termasuk soal harga minyak mentah.

"Gerakan pasar komoditas internasional, termasuk minyak, memiliki arti penting bagi kebijakan moneter," Fukui mengatakan.

BOJ sedang mengeksplorasi waktu untuk meninggalkan kebijakan pengendoran kuantitatif, yang diadopsi Maret 2001, saat deflasi yang telah menghantui perekonomian Jepang selama bertahun-tahun akan berakhir sejalan dengan pemulihan ekonomi.

Bank sentral Jepang berjanji untuk mempertahankan kebijakan pengendoran-ultra sampai laju perubahan tahun-ke-tahun harga konsumen seluruh negeri stabil di atas nol.

Pernyataannya memberi kesan bahwa BOJ memiliki kepentingan besar pada kenaikan harga minyak mentah karena harga tersebut mungkin menaikan harga konsumen keseluruhan dan oleh karena itu mempengaruhi timing pergeseran kebijakan moneter. Kelompok G7 terdiri dari Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat. (*/erl)