Kepala Wilayah I BKSDA Riau, Nukman yang turut langsung dalam operasi itu mengatakan gajah jantan dewasa itu menyebabkan kerusakan tanaman pangan dan kebun sawit masyarakat setempat.
"Sudah hari kami berupaya mengusirnya agar kembali masuk hutan, namun gajah itu selalu kembali ke daerah pemukiman. Mudah-mudahan setelah malam ini, tidak kembali lagi," ujarnya.
Pengusiran gajah yang memasuki areal pemukiman masyarakat dilakukan menggunakan meriam parallon yang berisi karbit bercampur air. Kemudian disulut api hingga menimbulkan suara menggelegar.
Pendengaran gajah yang cukup sensitif merangsang hewan itu untuk menjauhi sumber suara. "Namun terkadang, gajah juga tidak takut. Terpaksa ditempuh dengan cara mengerahkan masyarakat menyalakan obor api," ujarnya.
Setelah gajah itu menjauhi pemukiman, kemudian empat tim F Squat WWF yang berkekuatan gajah terlatih dari Lampung memandu gajah itu untuk kembali hingga ke dalam hutan.
Menurut Nukman, penanganan konflik gajah memasuki kawasan pemukiman masyarakat harus secepatnya karena hal itu dapat merangsang hadirnya para pemburu untuk membunuh hewan dilindungi itu.
Salah satu konflik gajah dengan masyarakat yang diduga sampai mengundang masuknya empat pemburu gajah dari Bengkulu Selatan beberapa waktu lalu terjadi daerah Mahato, Rokan Hulu sekitar 200 Km arah timur Pekanbaru.
Kehadiran pemburu itu berhasil diketahui polisi sehingga terjadi kontak tembak dengan pemburu yang menewaskan tiga orang pemburu dan dua orang anggota polisi terluka parah.
Dari tangan pemburu, polisi berhasil menyita tiga pasang gading dengan berat total mencapai 45kg.
Selain itu, tambah Nukman, peningkatan konflik gajah dengan masyarakat terjadi akibat terputusnya areal jelajah gajah yang mencapai 80km per hari itu oleh pemukiman, perkebunan sawit dan areal tanaman hutan industri.
"Karena sudah merupakan perlintasan gajah, maka apapun tanaman atau menghalanginya pasti akan terganggu. Dan parahnya lagi, gajah selalu kembali menempuh jalur perjalanan semula," Ujarnya.
Populasi gajah di Riau saat ini kemungkinan hanya bersisa antara 300 hingga 400 ekor yang terkonsentrasi di daerah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar dan Pelalawan. (*/erl)