Dr. Frank Gentile termasuk salah seorang yang mempelopori hal ini, selain sebagai seorang anestesiologis (ahli pembiusan) dia juga seorang disk-jockey (DJ) khusus untuk ruang operasi. Caranya adalah dengan menyediakan berbagai genre musik di ruang operasi. Koleksi CD Dr. Gentle kini berjumlah sekitar 100 album, dan iPod-nya juga diisi tidak kurang dari 5000 judul lagu.
“Saya memilih musik secara seksama, karena Saya tahu apa selera para dokter bedah disini,” kata Dr. Gentile yang juga menjabat sebagai pimpinan anestesiologi Rumah Sakit Edward di Naperville. Dia memilih beragam tipe musik untuk berbagai tahapan operasi, mulai dari musik klasik, hip hop, slow rock, bahkan rap sekalipun.
Saat ini banyak ruang operasi di berbagai rumah sakit Amerika Serikat yang mengadopsi teknik tersebut untuk memberikan ketenangan kerja bagi para ahli bedah saat melakukan tugasnya. Berdasarkan hasil penelitian, cara tersebut ternyata juga membawa dampak positif bagi pasien, karena mampu mengurangi ketergantungannya pada cara pembiusan konvensional.
Oleh karenanya tugas memilih jenis musik yang tepat di ruang operasi bergantung sepenuhnya pada kepekaan seorang anestesiologis. Semakin peka dia pada selera musik para ahli bedah, maka akan semakin mudah dia menjalankan pekerjaannya. Saat ini tercatat hanya ada sekitar 50 orang anestesiologis yang merangkap sebagai DJ ruang operasi.
“Bila mereka bisa bekerja lebih cepat dan merasa gembira, maka situasi kerja di ruang operasi akan lebih menyenangkan,” ujar Dr. Gentile. Tetapi dirinya juga mengingatkan apabila suara musik itu malah mengganggu kelancaran proses operasi, maka lebih baik dimatikan saja. Simpan untuk diputar pada saat jam istirahat kerja nanti. (ap/dni)