"Permintaan China melamban tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu, namun hal itu mustinya menguat kembali dengan mantap tahun depan," kata Steve Thomas dari kelompok riset LMC Internasional yang berbasis di London.
"China tetap menjadi pendorong pertumbuhan komoditas dunia dan diharapkan akan berlangsung lama tentunya," ia menambahkan. "Hal itu akan mempengaruhi beberapa komoditas termasuk minyak, tembaga, platinum dan paladium, kapas, karet, sereal atau bahkan wool."
Kemerosotan permintaan komoditas belakangan ini sebagian disebabkan oleh upaya penguasa China untuk mengerem laju pertumbuhan yang tak beraturan dalam 18 bulan hingga akhir Juni yang memperlihatkan pertumbuhan lebih dari 9,5%.
Namun impor alumunium dan tembaga sudah melompat balik dalam bulan-bulan belakangan, sementara kegiatan membaik dan tidak ada pelambatan riil di China," ia mengatakan.
Sama halnya, sebuah laporan oleh Ketua UBS Asia ekonom Jonathan Anderson bulan lalu mengatakan bahwa kegiatan konstruksi China meningkat, mencapai hampir 30% tahun-ke-tahun Juli, menurut angka-angka terakhir.
Argumen seperti itu didorong oleh pemandangan ekonomi jangka-panjang yang mengesankan bahwa perekonomian China hanya akan mengalami suatu pelambatan marginal.
Laporan OECD tentang China bulan lalu mengatakan "pertumbuhan ekonomi rata-rata 9,5% selama dua dasawarsa silam dan kelihatannya mungkin akan berlanjut pada laju itu selama beberapa waktu," bahkan ketika organisasi itu memperingatkan bahwa reformasi ekonomi dan sosial yang lebih banyak lagi merupakan keharusan.
Kamis, data resmi menunjukkan perekonomian China terus maju sedikit demi sedikit, dengan produk domestik bruto (PDB) naik 9,4% dalam kuartal ketiga.
Selama empat tahun permintaan amat besar produk mentah oleh pabrik China telah tanpa belas kasihan mendesak harga komoditas naik, menghancurkan keseimbangan perdagangan global.
"Sementara tunduk pada siklus balikan, kami mengharap banyak harga komoditas akan tetap tinggi untuk waktu yang lama dengan pertumbuhan permintaan di atas tingkat historis," analis Morgan Stanley Robert Ottenstein mengatakan.
Ambil Contoh Minyak
China menjadi penegak minyak terbesar kedua dunia sesudah Amerika Serikat pada 2002 dan tahun lalu China mengkonsumsi 314 juta ton, dari jumlah itu China mengimpor 122,7 juta ton.
Sedangkan laju permintaan turun sejak awal 2004 yang disebabkan rekor harga minyak, dan kendali harga domestik yang membatasi pasokan, kemungkinan permintaan akan melingkat lagi.
"Kami tidak akan mencari 12 bulan lagi bagi impor minyak China yang lemah," kata Anderson dari UBS. "Dalam pandangan kami, pembelian minyak China daratan seharusnya pulih dengan baik maju lagi."
Industri tertentu seperti baja, dimana China adalah produsen terbesar dunia, telah mengalami penurunan tajam yang disebabkan oleh overproduksi, namun kebanyakan dari overkapasitas itu dapat digunakan di dalam negeri.
"Pembangunan industri dan kelistrikan merupakan pendorong yang menyebabkan harga-harga naik terus," kata AME Mineral`s Way. (*/lpk)