Jurnalistik Infotainment Tak Perlu Diperdebatkan

Kapanlagi.com - Direktur Institute for Media and Social Studies Veven Wardana berpendapat, pekerjaan infotainment juga merupakan pekerjaan seorang wartawan sehingga sudah saatnya dihentikan perdebatan tentang apakah infotainment itu masuk dalam lingkup jurnalisme atau tidak.

"Sekarang ini tidak perlu lagi menyatakan infotainment itu karya jurnalistik atau bukan karena apa yang dikerjakan oleh para pekerja infotainment itu adalah juga pekerjaan wartawan," katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi tentang "Pekerja Infotainment dan Privasi Selabritis" di Jakarta, Senin (21/11).

Dikatakannya bahwa kalangan infotainment ini juga melakukan peliputan, pembuatan berita untuk kemudian ditayangkan di media-media televisi.

Selain itu sejak bergabung resmi dengan PWI, katanya lagi, mereka sebenarnya telah sah menjadi wartawan yang sederajat dengan wartawan-wartawan lainnya.

"Oleh karena itu, pengakuan PWI bahwa para pekerja infotainment adalah juga seorang wartawan, seperti yang telah dimaklumatkan pada peringatan Hari Pers Nasional di Pekanbaru pada 9 Februari 2005 lalu, merupakan sesuatu yang sudah semestinya" ujarnya.

Senada dengan Veven, Hans Miller Banureah, Asisten Produser Tayangan Cek & Ricek, menyatakan bahwa titik tolak informasi jurnalistik atau warta dalam jurnalisme sangat jelas, yakni adanya realitas.

Demikian pula dengan tayangan atau peliputan infotainment juga didasarkan pada adanya realitas dan bukan sekedar membungkus gosip-gosip yang tidak jelas.

Pembicara lainnya, Peneliti di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan Ignatius Haryanto menuturkan bahwa infotainment bukanlah sebuah fenomena yang berkembang di Indonesia saja, tetapi juga telah menjadi fenomena global yang berkembang di negara-negara maju.

Menurut dia, hal tersebut merupakan konsekuensi dari komersialisasi media yang semakin meluas dan mengglobal.

"Intinya adalah persaingan dalam industri media telah menjadikan satu dorongan kuat bagi tayangan infotainment dan para pekerjanya untuk menempati posisi yang cukup penting dalam landscape sekarang ini," katanya.

"Kita pun sudah hafal dengan rumus 5W dan 1H yang merupakan unsur suatu pemberitaan. Kita juga sering mendengar rumusan bagaimana seorang wartawan yang baik seharusnya bekerja, memiliki rasa ingin tahu yang besar, tidak mudah menyerah, memiliki keberanian, kecerdikan dan kecerdasan serta tidak percaya begitu saja atas informasi yang diterimanya," Ignatius menambahkan.

Sementara itu, artis Anwar Fuadi menyatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalin hubungan yang persuasif antara kalangan wartawan infotainment dengan artis sebagai nara sumbernya.

"Wartawan infotainment membutuhkan berita dan nara sumber artis-nya, sementara artis membutuhkan pula wartawan untuk mempromosikan diri mereka. Sehingga disini terjadilah apa yang disebut simbiosis mutualisme diantara keduanya," katanya. (*/dar)

©2003-2007 KapanLagi.com