< >

G7: Waspada Kenaikan Bunga dan Harga Minyak

Minggu, 04 Desember 2005 12:35
Kapanlagi.com - Para pemimpin keuangan G7 direncanakan akan menyelesaikan pertemuan dua hari di London Sabtu, menyerukan koordinasi lebih erat guna mengatasi dampak tekanan kenaikan harga dan kenaikan tingkat bunga global yang didorong oleh harga minyak yang tinggi.

G7 mungkin hendak mendesak para produsen dan konsumen supaya mencoba dengan lebih keras untuk mengendalikan harga minyak dan agar menekan anggota ekonomi Organisasi Perdagangan Dunia agar mencapai terobosan dalam pembicaraan liberalisasi pasar yang macet pada pertemuan tingkat menteri kunci WTO 13-18 Desember di Hong Kong, para pejabat G7 mengatakan.

Dalam sebuah pernyataan yang akan dikeluarkan sesudah pembicaraan London tersebut, G7 diharapkan akan menyerukan bagi ditingkatkannya ikatan antara Bank Dunia dan badan-badan internasional dalam menanggulangi ancaman flu burung dengan, misalnya, membentuk sistem peringatan dini dan mensyaringkan stok obat antivirus Tamiflu, para pejabat tersebut mengatakan.

Tentang nilai tukar, para anggota G7 nampaknya secara relatif puas dengan tingkat nilai tukar sekarang ini, mereka mengatakan. Komentar itu menyiratkan bahwa kelompok tersebut mungkin akan mengulangi seruan bagi nilai tukar yang mencerminkan fundamental ekonomi dan tanpa gerakan yang tak teratur.

"Pertemuan G7 di lingkungan dimana kami mendapati harga minyak berlipatdua dan 1 juta lapangan kerja pindah dari Eropa dan Amerika Serikat ke Asia...jadi ekonomi dunia sedang berubah dengan cepat," Menteri Keuangan Inggris Gordon Brown, tuan rumah pertemuan London, mengatakan Jumat dalam wawancara jajak pendapat.

"Kami melakukan tindakan untuk mencegah terulangnya inflasi global," ia mengatakan.

Brown mengatakan para menteri keuangan dan para gubernur bank dari Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat akan menggunakan pertemuan tersebut untuk menyerukan bagi keberhasilan pertemuan Hong Kong, yang dipandang krusial bagi penyelesaian Putaran Doha, yang diluncurkan pada 2001 di ibukota Qatar, sebelum batas waktu akhir 2006.

Pertemuan London tersebut menandai perpisahan G7 dengan Ketua Dewan Federal Reserve AS Alan Greenspan. Greenspan akan mundur pada 31 Januari setelah 18 tahun menjabat, selama masa mana ia telah memperoleh reputasi sebagai pemimpin keuangan dunia paling berpengaruh.

Para menteri keuangan G7 melakukan pertemuan terpisah dengan rekan-rekan mereka dari Israel, Otoritas Palestina, Brazil dan China guna mencari koordinasi kebijakan yang lebih erat atas masalah regional dan global yang menonjol.

Para anggota G7 diharapkan akan mensyaringkan suatu keprihatinan bahwa harga minyak dan sumber energi lain yang tinggi dan berlangsung lama dapat menaikkan tekanan inflasi, memperlambat pertumbuhan dan menyebabkan instabilitas ekonomi global, menurut para pejabat G7 tersebut.

Prospek meningkatnya pertumbuhan global telah mendorong para investor mengharapkan tingkat bunga lebih tinggi di Amerika Serikat, Jepang dan Eropa tahun depan. Para pemimpin keuangan G7 percaya tingkat bunga lebih tinggi di negara-negara maju dapat mempengaruhi pasar modal, termasuk nilai tukar dan arus dana ke negara-negara berkembang.

Untuk menangkis tekanan kenaikan harga, bank sentral AS dan Eropa telah mulai menormalkan kebijakan moneter mereka dari fase kelonggaran kredit. Sebagai langkah simbolis, Bank Sentral Eropa menaikkan tingkat bunga utamanya seperempat persen poin Kamis dari dua persen yang secara historis rendah dalam kenaikan bunga pertamanya dalam lima tahun.

Mengenai minyak, G7 mungkin akan menekankan perlunya untuk menaikkan investasi, produksi dan kapasitas pengilangan oleh para produsen besar, memperbaiki efisiensi energi di pihak konsumen besar, termasuk China dan India, dan memperkuat transparansi pasar minyak untuk mengekang harga minyak tinggi terus-menerus.

Harga minyak telah melemah dari tingkat rekor tertinggi yang tercatat pada akhir Agustus, tetapi para pembuat kebijakan G7 percaya itu masih menghadapkan resiko bagi ekonomi dunia, terutama negara-negara berkembang.

Menyangkut China, G7 diharapkan akan menyerukan kembali kepada ekonomi terbesar kedua Asia agar melonggarkan cengkeramannya pada mata uangnya, yuan, dan meneruskan yuan yang lebih fleksibel, didorong pasar, seperti Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki dan Menteri Keuangan AS John Snow katakan dalam pembicaraan bilateral mereka Jumat.

Pada 21 Juli, China membatalkan sistem nilai tukar yang dipatok dolar selama beberapa dekade dan mengadopsi sistem mengambang terkendali yang dikaitkan dengan sekeranjang mata uang asing menghasilkan revaluasi yuan 2,1 persen terhadap dolar.

Namun karena China sejak itu membiarkan yuan meningkat tipis, para anggota legislatif AS dan manufaktur telah mengecam Beijing untuk apa yang mereka katakan sebagai suatu kebijakan untuk mempertahankan yuan di bawah nilai agar memperoleh keuntungan perdagangan yang tidak adil. (*/rit)