China juga melaporkan penularan baru H5N1, orang kelima di negeri itu diketahui terpapar virus tersebut. Wanita berusia 31 tahun itu, yang tinggal di daerah Heishan di propinsi Liaoning, sudah sembuh.
Kematian bocah lelaki lima tahun dari propinsi Nakhon Nayok, Thailand tengah, 110 kilometer dari Bangkok, menjadikan korban flu unggas Thailand 14 orang tewas dari 22 penderita sejak virus itu menyerang bagian besar Asia pada ahir 2003.
Menteri Kesehatan Masyarakat Pinit Jarusombat mengatakan kepada wartawan bahwa dua laboratorium pada hari berikutnya meneguhkan H5N1 sebagai penyebab kematian tersebut.
Petugas kesehatan segera memeriksa 14 anggota keluarga anak itu dan memerintahkan pemunahan 1.800 ayam di daerah itu.
Ia merupakan orang kedua Thai tewas akibat virus H5N1 sejak flu unggas merebak di negeri itu bulan Oktober, dengan korban tewas pria berumur 48 tahun.
Belum jelas tentang cara bocah itu mendapatkan virus tersebut, yang biasa menyerang yang bersinggungan dengan ayam tertular atau kotorannya, kata pejabat tinggi kesehatan.
Anak itu, yang namanya dirahasiakan dan meninggal di rumahsakit hari Rabu, belum diketahui tentang kemungkinannya bersentuhan dengan ayam, kata pejabat kesehatan.
"Kami yakin bahwa anak itu tertular virus tersebut dari lingkungannya, karena kendati keluarganya tidak memelihara ayam, ada ternak ayam di lingkungannya," kata Thawat Suntrajarn, kepala Badan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan.
Anak itu mulai sakit tanggal 25 November dengan keluhan panas tinggi dan muntah, kata Narongsak Aungkhasuwapala, wakil sekretaris tetap kementerian kesehatan masyarakat.
Keluarganya membeli obat dari klinik swasta, tapi karena tidak sembuh, mereka membawanya ke klinik pada 1 Desember, kata Narongsak.
Pada hari Senin, ia dibawa ke pusat kesehatan Puteri Sirindhorn di Bangkok, tempat dokter mulai merawatnya dengan obat anti-virus Tamiflu, tapi penyakit itu terlalu parah bagi pengobatan tersebut.
"Sebagai ahli wabah, saya perkirakan bahwa anak itu mendapatkan virus tersebut dari lingkungannya, karena ia bermain dekat peternakan ayam, sehingga ia mungkin menyentuh kotoran unggas itu," kata Thawat dalam temu pers.
Itu mengikuti pola lama penularan virus tersebut ke manusia, yang belum menunjukkan perubahan menjadi bentuk yang mudah berpindah di antara manusia.
Pakar menyatakan takut akan hal itu. Jika mencapai kemampuan tersebut, virus H5N1 dapat memicu wabah, yang mampu menewaskan jutaan orang tanpa kekebalan akan zat baru itu.
Menteri Pertanian Sudarat Keyuraphan mendesak petugas dan orangtua tidak mengurangi kesiagaan dalam memerangi flu unggas.
"Kami tidak pernah mengumumkan Thailand bebas flu unggas. Tidak ada laporan tentang wabah bukan berarti virus unggas sepenuhnya teratasi," kata perempuan menteri itu kepada wartawan.
Dalam upaya melenyapkan wabah tersebut di negeri tersebut, pemerintah melibatkan 900.000 relawan untuk memantau dan mulai membuat sendiri obat anti-virus Tamiflu.
Lebih dari 63 juta ayam, bebek dan unggas jenis lain mati akibat virus tersebut atau dimusnahkan di Thailand dalam dua tahun terahir.
Dalam dua tahun sejak virus itu menyebar luas di Asia, hanya ada satu penderita di Thailand menunjukkan H5N1 diduga berpindah antar-manusia, yakni ibu yang meninggal sesudah semalaman membuai anaknya, yang meregang nyawa.
Tapi, badan kesehatan dunia menyatakan virus menjadi wabah di sebagian Asia dan negara di seluruh dunia menyiapkan rencana untuk menanggulangi wabah, yang dapat mengakibatkan kerusakan parah ekonomi dan kematian luas. (*/lpk)