"Apa pentingnya Munir bagi saya. Teman bukan, musuh juga bukan. Atas kematiannya saya turut berduka cita," kata Polly saat membacakan pledoi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat, Senin.
Masih dalam pledoinya, sejak awal Polly merasa pengungkapan hingga penangkapan serta proses persidangan itu merupakan rekayasa untuk menutupi siapa pembunuh yang sebenarnya.
"Saya mendambakan keadilan. Hal yang benar sulit untuk ditampilkan tapi jika ada hal yang memojokkan dengan mudah keluar dan diketahui oleh mayarakat umu," katanya.
Polly yang mengaku sudah bekerja menjadi pilot selama 21 tahun yang 17 tahun di antaranya bekerja di PT Garuda Indonesia juga memaparkan bahwa kepergiannya dalam penerbangan Jakarta- Singapura - Amsterdam merupakan perintah perusahaan.
Polly menyangkal merekayasa perjalanan itu terlebih dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) ia dituduh bersengkongkol dengan dua orang awak kabin Garuda yang meramu serta mengantarkan makanan kepada Munir.
"Saya sebagai karyawan harus bisa menerima perintah atasan selama ini. Saya bekerja dengan sebaik-baiknya. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk membunuh orang, berapa pun bayarannya," kata suami dari Yosepha Hera Iswandani.
Dalam pledoi pribadinya, setebal 17 halaman itu, Polly menceritakan kejanggalan-kejanggalan dan hal-hal yang mengganjal sejak mulai santernya berita tentang kasus Munir hingga akhirnya ia ditahan di Mabes Polri .
"Pertama kali saya melihat mulai banyak wartawan yang datang ke rumah saya. Karena itu mengganggu kemudian saya melaporkan ke manajemen Garuda. Tapi menurut mereka biarkan saja," katanya.
"Hal serupa juga terjadi ketika beberapa orang polisi datang ke rumah dan menawarkan agar saya dan keluarga pindah ke hotel. Tapi itu saya tolak baik-baik. Sampai akhirnya ada polisi yang menyarankan untuk saya berpura-pura sakit dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kramat Jati, saya dipaksa menghindar dari wartawan padahal saya ingin menjelaskan yang sebenarnya," kata Polly.
Pria yang selalu berpakaian rapi selama persidangan itu menambahkan, dari Rumah Sakit Kramat Jati, kemudian ia dibawa ke Polda Metro Jaya dengan alasan keamanan.
Kemudian dari cerita istrinya, ia mengetahui bahwa Hera diminta untuk menandatangani surat penyerahan Polly di bawah perlindungan aparat kepolisian, sementara tak lama kemudian Polly mendapatkan surat penangkapan dan penahanan.
Bantahan
Dalam pledoinya yang dibcarakan sekitar 45 menit, Polly juga membantah sejumlah dakwaan dan tuntutan. Hal-hal yang disangkal adalah ia melakukan konspirasi bersama pramugara Ody dan pramugari Yeti.
Ia juga mempertanyakan fakta dalam persidangan dari JPU yang menyatakan selama penerbangan antara Jakarta - Singapura, Polly membaca sebuah buku dan tampak tidak tenang.
"Masa hanya karena bertukar kursi dan saya membaca buku dalam bahasa Belanda yang dianggap oleh JPU saya tidak bisa berbahasa Belanda hal itu menjadi mencurigakan dan membuktikan bahwa saya merencanakan pembunuhan itu," katanya.
Polly juga menegaskan bukan dia yang membunuh Munir dan apabila Munir memang betul-betul dibunuh maka ia mengutuk pembunuh tokoh penegak HAM itu.
"Kalau memang dia dibunuh , saya kutuk si pembunuh itu. Saya bukan pelakunya, saya buka perencananya, dan saya tidak pernah turut serta melakukannya," kata Polly.
Atas hal-hal tersebut Plly meminta kepada Majelis Hakim untuk membebaskannya dari segala tuduhan.
Pada pukul 12.00 Majelis Hakim yang diketuai oleh Cicut Sutiarso menskor persidangan selama satu jam dan akan melanjutkannya pada pukul 13.00 WIB dan mendengarkan nota pembelaan dari penasehat hukum Polly.
Dalam persidangan sebelumnya, (1/12), JPU meminta majelis hakim untuk menjatuhkan hukuman pidana penjara seumur hidup kepada Polly.
Munir tewas di atas pesawat Garuda Indonesia dalam perjalanan Jakarta menuju Amsterdam, 7 September 2004 .
Dalam penerbangan itu. Pollycarpus juga duduk di kursi penumpang kendati berprofesi sebagai pilot Garuda.
Munir diperkirakan tewas saat pesawat melintas diatas Rumania atau dua jam sebelum mendarat di Amsterdam, Belanda setelah sebelumnya sempat muntah-muntah dan sering masuk ke WC.
Dari hasil otopsi jenazah Munir yang dilakukan oleh tim dokter Belanda, di badan Munir ditemukan kandungan arsen sebanyak 83,9 miligram per liter . Arsen dalam cairan lambung, 3,1 miligram per liter kandungan arsen. (*/rit)