"Yang kita tunjuk perusahaan Korea itu karena tawaran dia yang paling mendekati keinginan kita," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa (13/12), usai menerima penghargaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) atas perannya dalam penanganan masalah kesehatan di Aceh pasca tsunami.
Perusahaan swasta Korea bernama Daewoong itu, kata Menteri Kesehatan, bersedia melakukan semua proses produksi bahan baku tamiflu (Oseltamivir--red) seperti permintaan pemerintah Indonesia.
Sebelumnya dia menjelaskan bahwa perusahaan farmasi yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan Indonesia dalam pembuatan bahan baku paracetamol dan antibiotik itu menyatakan sanggup memproduksi oseltamivir untuk Indonesia.
Menurut Menteri Kesehatan, semula mereka menawarkan akan melakukan tujuh langkah ekstraksi dalam memproduksi bahan baku tamiflu tersebut di Indonesia dan lima langkah sisanya di Korea.
"Tapi saya bilang semua langkah harus dilakukan di sini," ujar Menteri Kesehatan seraya menambahkan bahwa akhirnya perusahaan itu menyetujui permintaan tersebut dan meminta tambahan waktu untuk mempersiapkan pelatihan teknisnya.
Dia mengatakan hal itu dilakukan untuk menekan biaya pembuatan bahan baku obat mengingat bahan mentah pembuatan oseltamivir yakni kembang lawang atau adas manis bisa sepenuhnya di suplai dari sejumlah daerah di Indonesia.
Beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatera Barat, Sulawesi dan Jawa Tengah, kata dia, sanggup menyediakan kembang lawang atau adas manis, bahan mentah pembuatan oseltamivir.
Dia menjelaskan pula bahwa pembuatan bahan baku tamiflu di Indonesia baru bisa dilakukan dalam lima atau enam bulan ke depan karena banyak aspek teknis yang perlu disiapkan.
Sejak merebaknya infeksi virus AI (H5N1) pada manusia di tanah air sejak Juli hingga 13 Desember 2005 jumlah pasien yang dinyatakan positif terinfeksi virus AI (H5N1) oleh laboratorium rujukan WHO di Hong Kong sebanyak 14 pasien dan sembilan diantaranya meninggal dunia.
Guna mengantisipasi penyebaran infeksi virus yang ditularkan oleh hewan khususnya unggas, pemerintah sudah melakukan pemantauan penyakit (surveilans), menyiapkan rumah sakit rujukan dan laboratorium serta menyusun rencana strategi nasional untuk menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi.
Saat ini pemerintah telah memiliki persediaan tamiflu sebanyak 850 ribu dosis dan untuk memenuhi kebutuhan stock obat tersebut di masa mendatang (untuk mengantisipasi terjadinya pandemi) pihak Roche, perusahaan farmasi Swiss yang memiliki paten tamiflu, telah memberi ijin kepada pemerintah Indonesia untuk memproduksi obat tersebut tanpa membayar biaya kompensasi dalam kondisi tertentu. (*/lpk)