Itu adalah kesimpulan komputer Universitas Amsterdam yang menerapkan 'software pengenalan emosi' pada lukisan tersebut, mingguan Inggris, New Scientist, melaporkan pada edisi Sabtu mendatangnya, sebagaimana dikutip AFP.
Algorithma itu, yang dikembangkan bersama dengan Universitas Illinois, berupaya menilai perasaan hati manusia dengan mengkaji fitur-fitur penting, seperti lekukan bibir dan kerutan di sekitar mata, kemudian memberikan angka mengenai enam emosi dasar.
Algorithma adalah serangkaian ketentuan, terutama dalam komputasi, yang harus diikuti ketika menyelesaikan masalah penting. (*/erl)