Usai melakukan pertemuan dengan sejumlah perwakilan Baxter di Jakarta, Kamis (15/12), Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa pihaknya baru melakukan pembicaraan awal dengan perusahaan tersebut.
"Belum (belum ada kesepakatan--red). Kita baru setuju akan kerjasama kalau mereka mau membuat vaksin strain Indonesia," katanya.
Pernyataan senada diungkapkan pula oleh Presiden Direktur Baxter untuk Produksi Vaksin Kim C Bush yang juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Menteri Kesehatan menjelaskan, setelah sepakat untuk bekerjasama dengan Indonesia yang dalam hal ini pelaksananya adalah perusahaan farmasi nasional PT Bio Farma, Baxter menawarkan untuk memproduksi vaksin flu burung untuk Indonesia dengan strain virus H5N1 dari Vietnam namun pemerintah Indonesia menolak tawaran itu.
Pemerintah Indonesia, kata Menteri Kesehatan, hanya bersedia bekerjasama dengan perusahaan tersebut bila mereka memproduksi vaksin dari strain virus H5N1 asal Indonesia karena hasil pengujian rantai RNA menunjukkan bahwa virus H5N1 yang menginfeksi warga Indonesia merupakan virus asli dari Indonesia.
"Mereka mengatakan bahwa itu memakan waktu lama karena mereka harus terlebih dulu menanam, membiakkan dan mengembangkan virus itu sebelum memformulasikan vaksinnya. Tapi akhirnya mereka setuju dan bahkan sudah menetapkan time line yang sangat ambisius," ujarnya.
Dia mengatakan pihak Baxter meminta waktu satu tahun untuk mempersiapkan semua hal terkait dengan produksi vaksin AI strain Indonesia dan berjanji akan menyediakan vaksin itu bulan Desember 2007 mendatang.
Model kerjasama pembuatan vaksin AI yang akan dilakukan dengan Baxter sendiri, kata dia, rencananya adalah dengan sistem down stream atau separuh proses dilakukan oleh Baxter di perusahaannya dan separuhnya dilakukan di Indonesia oleh PT Bio Farma.
Hal itu, menurut dia, dilakukan mengingat PT Bio Farma belum mampu memproduksi vaksin itu secara mandiri di Indonesia karena keterbatasan teknologi dan peralatan.
"Secara teknologi kita belum siap untuk melakukan seluruh tahap pembuatan," kata Presiden Direktur PT Bio Farma, Marzuki Abdullah.
Dengan demikian, dia menjelaskan, bila kerja sama itu disepakati maka pihak Baxter yang akan membuat formulasi vaksin tersebut dan Bio Farma yang melakukan proses filling atau pengisian vaksin ke dalam vial-vial.
"Kalau down stream kita siap. Manufacturing Filling adalah hal yang biasa kita lakukan. Bahwa nanti akan ada persyaratan khusus untuk vaksin AI sudah pasti kita akan menambah peralatan sesuai keperluan," katanya.
Hari ini, menurut Menteri Kesehatan, perwakilan Baxter akan melakukan peninjauan langsung ke pabrik Bio Farma di Bandung untuk melihat secara langsung kapasitas produsen farmasi nasional itu.
Pemerintah sendiri, kata Menteri Kesehatan, akan memutuskan untuk menerima atau menolak usulan kerja sama itu setelah pihak Baxter mengajukan final usulan kerja sama mereka.
"Kita akan tunggu tawaran akhir mereka. Kalau memang sesuai dan menguntungkan bagi kita mungkin kesepakatan itu bisa ditandatangani sekitar bulan Januari atau Februari tahun depan," demikian Menteri Kesehatan. (*/lpk)