"Di era modern ini, perempuan tidak hanya bergerak di bidang domestik, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam membangun bangsa. Saya berharap pria dan wanita dapat bermitra dalam membangun kembali Aceh pasca konflik dan tsunami," katanya di Banda Aceh, Senin.
Di sela-sela peringatan hari ibu ke-77 tingkat Provinsi NAD, ia menjelaskan kesetaraan gender dapat terwujud jika kaum perempuan di provinsi ujung paling barat Indonesia itu membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup.
"Kita berharap kaum perempuan Aceh ke depan ikut berperan aktif dalam menyumbangkan pikirannya untuk membangun masyarakat, daerah ini dan negara Republik Indonesia yang lebih maju dan bermartabat," tambah gubernur.
Peristiwa alam gempa dan tsunami yang menelan korban jiwa lebih 200 ribu penduduk meninggal dunia dan hilang di 13 kabupaten/kota itu telah membawa dampak besar bagi masyarakat dan daerah, terutama kaum perempuan, kata Mustafa.
"Sebagian masalah sebagai dampak dari gempa dan tsunami itu menimpa kaum perempuan yang telah menjadi janda karena suaminya meninggal dunia dalam musibah itu. Beban perempuan janda sudah semakin berat karena harus memelihara dan membimbing anak-anak yatim, sehingga generasinya bisa hidup dan memperoleh kesempatan pendidikan," kata dia.
Kendati demikian, gubernur mengimbau agar para janda korban konflik dan bencana alam itu tetap tegar dan tabah menghadapi cobaan itu setelah ditinggalkan suaminya.
"Kita semua harus bangkit. Kaum perempuan tetap bersemangat, mengikuti langkah yang diwariskan Sultan-sultan Aceh masa lalu, seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Tengku Fakinah," kata dia. (*/lpk)