< >

Bulog Diminta Tidak Tangani Beras Raskin

Rabu, 04 Januari 2006 17:24
Kapanlagi.com - Komisi IV DPR RI minta kepada Perum Bulog agar ke depan tidak menangani penyaluran beras kepada warga miskin (Raskin), sebab kalau Bulog bertahan pada program tersebut sama halnya menjalankan tugas Departemen Sosial.

"Perum Bulog tidak tepat menangani program penyaluran Raskin karena Raskin ini merupakan sosial yang tepatnya ada di Departemen Sosial," kata Ketua Tim Kunjungan Komisi IV DPR RI, Dr. HM Yusuf Faisal saat membuka pertemuan mereka dengan para pejabat Perum Bulog Divisi regional Sultra, di Kendari, Rabu.

Faisal mengatakan, kalau Bulog masih ingin menangani Raksin, porsinya secara bertahap bisa dikurangsi sampai 30 %. Itu pun juga tidak berlangsung secara terus-menerus, sebab kalau Bulog mau terus bertahan, maka sebaiknya bernaung saja di bawah Departemen Sosial.

"Tetapi Kami tidak ingin Bulog di bawah Depsos, oleh karena itu, kegiatan yang bersifat sosial yang ditangani Bulog diserahkan saja kepada instansi terkait dengan itu. Kami Ingin Bulog sebagai `marketing work` yang kuat," ujarnya.

Faisal juga menyarankan agar selain berfungsi sebagai stabilisator pangan, juga Bulog diharapkan bisa berkonsentrasi pada kegiatan bisnis komoditi tertentu dengan memanfaatkan potensi unggulan yang ada di berbagai daerah untuk dipasarkan Bulog ke berbagai pasar, terutama ekspor.

Ia mecontohkan, di Sultra terdapat beberapa komoditi unggulan seperti jambu mete, kakao dan cengkeh. Perum Bulog di Sultra bisa memanfaatkan potensi sumber daya alam itu karena komoditi tersebut juga di pasaran memiliki prospek pasar yang cerah.

Hal senada juga diungkapkan anggota Komisi IV DPR RI yang lain, Hifnie Sarkawie bahwa selain berfungsi menjaga ketahanan pangan, juga peran Bulog sudah harus dikembangkan lebih luas dengan melirik dunia bisnis. Sebab, kalau Bulog hanya menangani Raskin saat ini, itu sulit dipertahankan.

Kalau program Raskin ini dihapus, kata Sarkawie, kondisi Bulog terutama di tingkat daerah, maka bisa "colaps" . Di beberapa daerah seperti Papua juga telah muncul pemikiran masyarakat untuk menolak Raskin, sebab dengan adanya Raskin selama ini hanya memanjakan rakyat.

"Rakyat di Papua semula rajin mengolah lahan pertanian, namun dengan adanya program Raskin selama ini, mereka mulai enggan bertani karena begitu mudah dan murah harganya untuk mendapatkan beras untuk makan," ujar Sarkawie yang mengutip keterangan dari warga Papua itu.

Pls. Kepala Perum Bulog Sultra, Lubis Husainy mengatakan, Perum Bulog sebenarnya sudah memiliki program untuk mengembangkan kegiatan bisnis dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada, terutama di daerah-daerah diarahkan untuk mengenbangkan bisnis komoditi unggulan.

Khusus di Sultra, Perum Bulog Sultra sejak tahun 2005 dan di tahun 2006 telah mengembangkan bisnis komoditi jambu mete untuk diekspor ke India. Tahun lalu, Bulog Sultra ekspor jambu mete 1.000 ton. Tahun 2006 diupayakan sebanyak 600 ton.

"Usaha komoditi perkebunan itu kini diperluas tahun 2006 dengan rencana membeli komoditi kakao sebanyak 1.000 ton untuk kebutuhan ekspor," ujar Lubis Husainy (*/rit)