Faktor yang mempengaruhi tekanan ekonomi nasional tersebut diantaranya adalah kenaikan harga minyak mentah dunia serta kenaikan suku bunga di negara Amerika Serikat, kata Pimpinan BI Banjarmasin, Endoong Abdul Gany, kepada wartawan di Banjarmasin, Rabu.
Walau ada tekanan tetapi perekonomian nasional tahun 2005 tersebut diperkirakan mengalami pertumbuhan pada kisaran 5,3 % sampai dengan kisaran 5,6 % yang berarti sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2004 lalu tercatat 5,1 %.
Pertumbuhan eknomi yang relatif lebih baik tersebut karena didukung oleh peningkatan sektor konsumsi 3,3 % hingga 3,8 % dan investasi 9,5 % hingga 10,1 %.
Ketika menyampaikan hasil kajian ekonomi yang dilakukan oleh BI Banjarmasin, Endoong Abdul Gany menuturkan tekanan ekonomi nasional demikian telah berdampak pula terhadap peningkatan beban anggaran pemerintah sehingga mengurangi beban tersebut pemerintah mengurangi besaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada masyarakat.
Kenaikan harga BBM selanjutnya berdampak terhadap kenaikan inflasi yang tinggi pada triwulan IV tahun 2005 sehingga laju inflasi pada tahun 2005 mencapai kisaran 17,11 % (y-o-y), jauh lebih tinggi dibandingkan laju inflasi pada tahun 2004 yang mencapai 6,40 % (y-o-y).
Guna meredam laju inflasi tersebut maka Bank Indonesia meningkatkan suku bunga secara bertahap dari 7,4 % pada triwulan I tahun 2005 menjadi 12,75 % di triwulan IV tahun 2005.
Sejalan dengan perkembangan tersebut nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan sehingga cenderung melemah, meskipun di akhir triwulan IV tahun 2005 pergerakannya relatif stabil pada level Rp9,500,- hingga Rp9.900,- per Dolar AS.
Menurut Endoong Abdul Gany perkembangan ekonomi nasional tersebut telah pula mempengaruhi perekonomian wilayah wilayah Propinsi Kalimantan Selatan atau wilayah kerja BI Banjarmasin yang diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonominya capai 5,19 % sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2004 yang mencapai 4,95 %.
Dari sisi penawaran pertumbuhan ekonomi Kalsel itu terutama didorong oleh sektor keuangan 9,94 %, sektor angkutan 7,03 %, sektor pertambangan 6,15 %, sektor pertanian 5,1 %, serta sektor perdagangan 4,08 %.
Sementara dari sisi permintaan masih ditopang oleh konsumsi masyarakat, walaupun cenderung melemah di triwulan IV tahun 2005 seiring dengan kenaikan harga BBM, demikian Endoong Abdul Gany. (*/rit)