"Tingginya harga minyak dunia tersebut akibat masih kuatnya tambahan permintaan di tahun 2006 yakni antara 1,8-2 juta barel per hari, tanpa dibarengi pasokan yang memadai" katanya di Jakarta, Jumat (06/01).
Peningkatan permintaan tersebut, menurut Kurtubi, terutama berasal dari Amerika Serikat (AS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi pada 2005.
Selain itu, negara lain yang akan meningkat permintaan minyaknya adalah China.
"Pada tahun 2006, meski sudah berusaha menekan laju konsumsi, namun konsumsi minyak China masih bertambah cukup besar yakni 500 ribu barel per hari," katanya.
Kurtubi menambahkan, kuatnya permintaan tersebut tidak diimbangi dengan pasokan minyak dari negara non-OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) yang menjadi acuan pasar.
Menurut dia, pasokan minyak negara non-OPEC maksimal hanya 1,2 juta barel per hari atau jauh di bawah pertumbuhan permintaan yang mencapai 1,8-2 juta barel per hari.
Tambahan permintaan itu akan membuat konsumsi minyak dunia pada 2006 akan meningkat menjadi 86 juta barel per hari dari konsumsi tahun kemarin yang 84 juta barel per hari.
Sebanyak 30 juta barel per hari di antaranya berasal dari OPEC.
Harga minyak dunia yang disampaikan Kurtubi itu berbeda dengan perkiraan yang dilontarkan Ketua Dewan Gubernur OPEC Maizar Rahman, Kamis (05/01).
Menurut Maizar, harga minyak dunia pada 2006 akan mencapai US$56-US$57 per barel.
Harga minyak dunia tersebut, lanjutnya, terutama dipengaruhi faktor fundamental berupa produksi minyak baik OPEC maupun non-OPEC yang lebih tinggi dari peningkatan permintaannya.
Maizar mengatakan, tekanan permintaan tersebut merupakan akibat masih tingginya harga minyak dunia, sehingga negara berkembang juga menekan volume konsumsi minyaknya.
Jika harga minyak dunia mencapai US$56-US$57 per barel, maka harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi berpeluang untuk diturunkan. (*/lpk)