Direktur Utama PT. LG Electronics Indonesia, Lee Kee Ju kepada pers usai merger kedua perusahaan itu di Jakarta, Sabtu mengatakan, penggabungan ini didasari pada strategi perusahaan untuk menguasai pasar elektronika Indonesia dengan menyatukan dua perusahaan di Indonesia.
"Kami ingin menjadi perusahaan yang kuat dalam permodalan maupun efisien dalam operasional perusahaan, sehingga target menjadi perusahaan nomor satu di dalam negeri bisa tercapai,"katanya.
Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, diperlukan langkah strategis agar LG dapat menjadi perusahaan elektronika terbesar di Indonesia, tegasnya.
Menurut Lee Kee Ju, dengan penggabungan ini LGEIN akan makin kompetitif baik di Indonesia maupun Perjanjian Perdagangan Bebas Asia (AFTA) yang juga bertujuan untuk menjaga kelangsungan operasional perusahaan di tengah kompetisi global.
Ketika menyinggung masalah ekonomi nasional, Lee mengatakan, akan terus berkembang lebih baik dibanding sebelumnya, karena potensi pasarnya cukup besar, apalagi pemerintah Indonesia berusaha meningkatkan biaya belanjanya.
Kondisi pasar yang melambat hanya sesaat dan ini bisa terjadi karena kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai US$70 per barel, namun saat ini sudah mengalami penurunan, katanya.
Untuk bisa menguasai pasar elektronik Indonesia, perusahaan itu tahun ini telah menambah nilai investasi sebesar US$40 juta dengan komposisi US$18 juta untuk pabrik LGEIN di Cibitung, Bekasi dan US$22 juta untuk pabrik LGEIN di Cirarab-Tangerang, Banten.
LGEIN saat ini memproduksi lemari es satu pintu dengan volume 230 liter dan lemari es dua pintu, sedangkan untuk penjualan LGEIN memasarkan lemari es klas premium yang memiliki volume 300 liter ke atas yang merupakan produk impor.
Selain itu juga memproduksi televisi konvensional atau layar cembung dengan ukuran lima belas hingga tujuh belas inci, serta televisi layar datar berukuran 21 inch hingga 29 inch dan televisi projection.
Mengenai pasar ekspor, menurut Lee porsi Afrika dan Timur Tengah berkisar 35%, wilayah Asia dan Australia 44%, serta wilayah Eropa hanya empat persen dan Cina sekitar 17%.
Nilai ekspor pada 2005 untuk lemari es mencapai US$50 juta dari 300 ribu unit dan televisi sebesar US$601 juta untuk 500 ribu unit.
Ia mengakui, persaingan pasar televisi memang cukup ketat, namun pasarnya cukup besar, terutama televisi layar cembung, Namun perusahaan itu telah mengganti beberapa model televisi yang mengutamakan televisi layar datar. (*/lpk)