"Apa itu BLT, saya tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah, kecuali bantuan dari tetangga," kata Sadiru (50), salah satu dari empat KK yang menderita kelaparan di desa yang terletak di perbatasan Pamekasan-Sumenep, Senin (09/01).
Sadiru bersama isteri dan dua orang anaknya yang masih duduk di bangku TK dan SD kelas 2 itu mengatakan bahwa hasil panen jagungnya selama ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan delapan bulan.
"Satu tahun panen dua kali, namun hasilnya cukup hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup selama delapan bulan, jadi sisanya kami penuhi dari tanaman lain, itupun juga terbatas. Kami tetap mengutamakan anak-anak," ungkapnya dengan nada meninggi.
Selain Sadiru, ketiga KK lainnya yang menderita kelaparan dan tidak pernah menerima BLT adalah Ny. Sunggani (48), Ny. Isru (49) dan Saduri (52).
Di Dusun Sema tercatat 160 KK, dimana 70 KK diantaranya masuk dalam kategori miskin, 20 KK kategori sangat miskin dan empat KK lainnya yang mengalami kelaparan tergolong sangat miskin sekali.
Kehidupan sehari-hari penduduk setempat adalah bercocok tanam jagung dan ketela, namun dua bulan terakhir ini, penduduk setempat mengalami gagal panen, karena hujan.
Sampai saat ini, keluarga yang mengalami kekurangan itu belum menerima bantuan apapun dari pemerintah daerah setempat. (*/lpk)