< >

Pembangunan Rumah Korban Tsunami Terancam Terbengkalai

Kamis, 12 Januari 2006 14:08
Kapanlagi.com - Pembangunan ratusan unit rumah korban tsunami di sejumlah desa di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar bantuan donatur internasional terancam terbengkalai setelah pihak pengembang meninggalkan pekerjaannya karena ongkos yang tidak sesuai.

"Pembangunan perumahan itu sudah dihentikan beberapa pekan lalu, karena para pekerja mengaku ongkos yang mereka terima tidak sesuai," kata Agusni, salah seorang warga Desa Lampoh Daya, Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh, Kamis.

Ia menyebutkan, proyek pembangunan perumahan di tiga desa di Kecamatan Jaya Baru, masing-masing di Desa Lampoh Daya, Bitai dan Emperom, yang didanai oleh sebuah lembaga dari Turki dan mulai dikerjakan sekitar Nopember 2005.

Sementara pekerjaan (tender) pembangunan untuk lebih 300 unit rumah yang diperuntukkan bagi korban tsunami tersebut dilakukan perusahaan nasional (PT WK).

"Para pekerja mengaku ongkos yang mereka terima tidak sesuai dengan standar yang berlaku dan bervariasi antara satu rumah dengan rumah yang lain, sementara tipe rumah itu sendiri sama. Karena itu, para pekerja tidak mau melanjutkan pembangunan rumah karena ongkosnya sangat murah," tambahnya.

Sementara itu, salah seorang pekerja mengaku rata-rata ongkos pembangunan rumah korban tsunami yang mereka terima itu berkisar antara Rp8.000.000 hingga Rp9.000.000 per-unit.

"Kalau ongkos pembanguannya sebesar Rp.9000.000, itu bisa kami kerjakan, tapi kalau Rp8.000.000 per-unit, sangat sulit bagi kami karena rumah yang harus kami bangun itu tipe-45, dengan lamanya waktu penyelesaian mencapai dua bulan dengan enam pekerja," kata pekerja itu.

Sementara informasi lain menyebutkan pekerjaan pembangunan perumahan yang telah ditelantarkan itu rata-rata dilakukan pemborong (pengembang) yang memperoleh sub (pekerjaan) dari kontraktor.

"Kalau pekerjaan pembangunan perumahan itu kita ambil langsung dari PT WK, maka masih bisa dikerjakan. Tetapi, kalau pengembang mengambil pekerjaan pembangunan dari kontraktor maka tidak akan mendapat laba dari pekerjaannya," kata salah seorang pekerja yang minta namanya tidak ditulis.

Ia menilai pembangunan perumahan bantuan dari Turki yang tendernya pelaksanaannya dimenangkan PT WK itu sudah jatuh ditangan calo-calo.

"Kalau ongkos pekerjaannya tidak sesuai akibat banyaknya calo-calo, maka kita khawatirkan kualitas rumah korban tsunami itu tidak sesuai dengan standar, dan korban tsunami dalam posisi dirugikan," kata Wahidi, warga Desa Lampoh Daya. (*/rit)