Hal tersebut diungkapkan Kepala Satuan Operasional Arafah-Mina M Sukiman Azmy kepada wartawan di Kantor Makkah, Jumat Subuh.
"Ribuan jamaah haji dari Turki, India, Bangladesh, Pakistan dan Afrika, menunggu waktu afdhal di garis pintu masuk jamarat di lantai atas, sementara di belakangnya ribuan jemaah lain terus mendesak untuk masuk," katanya.
Hal itu menyebabkan ribuan jemaah yang menunggu (diam) terdorong dan jatuh akibat desakan dari ribuan jemaah lain belakangnya, sesaat setelah azan Dzuhur. Mereka yang jatuh kemudian terinjak-injak jemaah yang terus mengalir seperti air.
Aparat keamanan yang membuat barikade untuk menahan laju ribuan jemaah pun tidak sanggup menahan mereka.
Insiden tersebut terjadi hanya sekali yakni usai azan Dzuhur atau sekitar pukul 13.00 WAS. Sebelumnya, sempat diberitakan insiden terjadi dua kali yakni usai Dzuhur dan sekitar pukul 15.30 WAS. "Yang benar kejadiannya cuma sekali yakni usai azan Dzuhur," kata Azmy.
Jumlah korban tewas yang berhasil diidentifikasi hingga saat ini adalah sebanyak 358 tewas dan 252 luka-luka.
Dari jumlah korban tewas, kata Azmy, dua di antaranya dipastikan warga Indonesia.
Satu orang teridentifikasi atas nama Satimin bin Ngadiyorejo (67), jamaah haji asal Tanggamus, Lampung dari kloter 40 Jakarta-Bekasi. Almarhum yang berprofesi sebagai pedagang beralamat di Mega II Pekon Lom Talang Padang Tanggamus, Lampung dengan nomor paspor 08032457.
Sedangkan korban satu warga Indonesia lainnya adalah wanita bernama Rospita Ali Munsir (40) asal Sumbar. Almarhumah adalah isteri dari Rizal, seorang WNI yang bekerja sebagai staf Konjen Brunei Darussalam di Jeddah.
"Alhamdulillah para jamaah kita mengikuti himbauan untuk tidak melontar jumrah pada waktu afdhal (ba`da Zawal) karena saat itulah di tempat jamarat sangat padat oleh jamaah berbagai dunia yang menunggu waktu afdhal," kata Azmy yang juga Kepala Biro Umum Depag.
Namun, katanya, setelah dicek hanya ada sekitar 90 jamaah dari dari KBIH Al Fattah pimpinan Ustad Zainudin Usman dari kloter 40 JKS asal Lampung, yang tidak mematuhi himbauan tersebut. Satimin yang menjadi korban tewas merupakan jamaah dari KBIH tersebut.
Azmy menambahkan, saat ini foto-foto korban telah dipampang di RS At Tawari Mu`aisim untuk memudahkan proses identifikasi. Dari hasil pemantauan hingga dinihari, tidak ditemukan lagi adanya korban jemaah haji Indonesia. Demikian pula korban yang luka-luka, belum ditemukan adanya jemaah asal Indonesia.
Menurut dia, rencananya pada pagi ini "penyisiran" di rumah sakit akan dihentikan jika telah dipastikan tidak ada lagi jemaah atau warga Indonesia yang jadi korban.
Sudah normal
Sementara itu, berdasarkan pantauan ANTARA di lokasi Jamarat sejak Kamis (12/1) malam hingga Jumat (13/1) subuh, lokasi Jamarat sudah normal kembali.
Jemaah haji yang melakukan pelontaran jumrah tampak sudah tidak terlalu padat seperti sebelumnya.
Tenda-tenda darurat yang digunakan untuk mabit (menginap) jemaah berbagai negara di sekitar jamarat juga sudah jarang terlihat. Bahkan, pada dinihari, suasana pelontaran di jumrah Ula, Wustha dan Aqabah relatif sepi.
Pada saat dinihari hingga menjelang subuh itu, nampak jemaah Indonesia banyak yang mempergunakan waktu tersebut untuk melontar jumrah.
Pemerintah Arab Saudi sendiri telah mengambil langkah-langkah yang cukup cepat untuk menangani peristiwa tersebut. Berdasarkan pengamatan, sekitar pukul 15.30 WAS atau sekitar 2,5 jam setelah kejadian, di lokasi kejadian sudah nampak normal seperti tidak terjadi apa-apa.
Tujuh kontainer dan ribuan aparat dikerahkan untuk mengevakuasi korban, memblokade lokasi dan membersihkan tempat kejadian. (*/rit)