Masyarakat di Daerah Gunung Api Perlu Waspada Bencana Longsor
Kapanlagi.com - Masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gunung api perlu mewaspadai terjadinya bencana longsor, karena berbagai bencana yang terjadi di musim penghujan sebagian besar terjadi di daerah gunung api, baik kuarter maupun tersier serta yang masih aktif maupun tidak aktif. "Hasil kajian Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM menunjukkan bencana longsor di Desa Sijeruk, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada 5 Januari 2006 terjadi karena wilayah itu terletak di daerah pegunungan vulkanik, yakni Gunung Pawinihan," kata Kepala PSBA UGM Dr Sunarto di Yogyakarta, Jumat (20/01). Menurut dia, Gunung Pawinihan dengan ketinggian 1.240 meter di atas permukaan air laut (dpal) merupakan batuan gunung api kuarter dengan batuan andesit hipersten-augit yang mengandung hornblende dan basal olivin serta aliran lava dan breksi aliran dengan beberapa breksi piroklastik. Lapisan batuan itu terletak di atas Formasi Merawu yang merupakan batuan tersier yang mengandung batu lempung dan tuff dasit. Tanah yang terbentuk di wilayah itu adalah latosol. Ia mengemukakan, secara fisik kondisi hutan di lereng pegunungan vulkanik itu cukup rapat dengan jenis tanaman Rasamala, yang semula merupakan hutan produksi terbatas, tetapi sejak 2002 dialihfungsikan menjadi hutan lindung. "Lereng pegunungan vulkanik yang mengalami longsor memiliki kemiringan lebih dari 60 derajat dan di bagian pegunungan yang mengalami pengelupasan tanah memiliki kemiringan lereng 45 derajat," katanya. Dikatakannya, beda tinggi mahkota longsor dan desa yang terlanda bencana sekitar 440 meter dan jarak horisontal dari titik longsor ke desa sekitar dua kilometer. Sudut yang curam merupakan faktor yang memperbesar daya luncur massa tanah. Pada kaki lereng mengalir Sungai Landak yang tegak lurus terhadap arah lereng, dan beda tinggi antara dasar sungai dan permukiman sekitar tiga meter. Perbedaan itu yang menjadikan penduduk merasa aman dari bahaya longsor. Ia menambahkan, sebenarnya di wilayah lereng atas yang longsor pertama kali, massa tanah tertahan bukit di sebelah baratnya. Setelah volume air semakin membesar, massa tanah yang tertahan itu menjadi lebih berat dan meluncur membentur bukit sehingga terjadi pengelupasan. "Saat massa lumpur terakumulasi disertai gaya gravitasi itulah yang mengakibatkan terjadinya longsoran besar dan massa tanah dapat terlempar menimbun Desa Sijeruk. Semua kejadian itu dipacu oleh hujan yang sangat lebat dengan curah hujan rata-rata 44,4 milimeter per hari," katanya. (*/lpk) |