< >

Uskup Belo Dukung Presiden SBY Terima Nobel Perdamaian

Rabu, 01 Februari 2006 10:07
Kapanlagi.com - Peraih Nobel Perdamaian 1996 Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo,SDB menyatakan dukungannya yang tulus kepada Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) untuk dinominasi meraih Nobel Perdamaian 2006.

Uskup Belo menyampaikan hal itu kepada ANTARA di Atambua, Rabu, melalui telepon selular dari Portugal disusul surat melalui internet yang diterima pada hari yang sama.

Uskup Belo menyampaikan komentarnya setelah dia mendapat informasi bahwa Presiden SBY yang mantan Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bhakti (SYB) yang pernah bertugas di Timor Timur (Timtim) tahun 1986-1988 itu dinominasi menerima Nobel Perdamaian 2006.

"Kami mendapat informasi bahwa Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dinominasi untuk meraih Nobel Perdamaian 2006. Sebagai peraih Nobel Perdamaian 1996 kami menyatakan dengan tulus dukungan untuk pemimpin bangsa dan negara Indonesia itu," kata Uskup Belo.

Dia mengatakan, apabila para penerima Nobel Perdamaian dimintai tanggapan seputar pencalonan SBY untuk meraih hadiah bergengsi di bidang perdamaian itu, maka dirinya menjadi orang pertama menyatakan dukungan tulus berdasarkan apa yang diketahuinya tentang pribadi, perjalanan hidup dan perjuangan SBY.

Apabila Presiden SBY berhasil keluar sebagai peraih Nobel Perdamaian 2006, menurut dia, maka hal itu merupakan suatu kehormatan bagi seluruh rakyat Indonesia, sekaligus kebanggaan bagi rakyat di Negara Timtim.

Ketiga bertugas di Timtim dari 1986 sampai 19888, SBY sempat menjadi Komandan Yonif (Danyonif) 744/SYB yang bermarkas di Taibesi, Dili, Timtim.

Sementara itu dalam suratnya yang dikirim melalui jaringan internet yang ditulis di Mogofores, Portugal, 31 Januari 2006, mantan Pemimpin umat Katolik Dioses Dili tahun 1988-2002 itu, menyampaiakn salam dan damai sejahtera kepada Presiden SBY dan

seluruh rakyat Indonesia.

"Dengan ini, kami menyatakan kegembiraan yang tulus setelah mendapat berita tentang pencalonan Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono untuk menerima Nobel Perdamaian 2006,"kata dia.

Uskup Belu melanjutkan dalam suratnya itu, "Saya menyatakan sangat mendukung pencalonan itu demi tercipta perdamaian kekal di Indonesia pada umumnya dan Aceh, Timor Leste dan Irian Barat pada khususnya.

Selanjutnya Belo mengatakan, walaupun dirinya kurang mengenal riwayat hidup Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang dalam surat itu disebutnya dengan "yang mulia", namun pada prinsipnya pihaknya mendukung pencalonan SBY uuntuk meraih Nobel Perdamaian.

Dia mengisahkan, ketika dirinya dinobatkan menjadi Uskup Titular Lorium Administrator Dioses Dili pada 19 Juni 1988, Mayor (Inf) Susilo Bambang Yudhoyono sudah bekerja di Timtim selama dua tahun.

"Banyak warga di tempat penugasan beliau berceritera bahwa Bapak Mayor ini orang baik, tenang dan tidak bertindak kasar terhadap rakyat,"tulis Uskup Belo dalam suratnya.

"Mayor ini bersama istrinya selalu menyatu dengan rakyat Timtim dan kemana saja istrinya Nyonya Anie pergi, selalu ditemani sesama kaum perempuan Timtim," lanjut Uskup Belo.

Uskup Belo lebih lanjut menulis, "Banyak orang di Timtim saat ini yang pernah bergaul bersama pasangan suami-istri ini dapat memberikan kesaksian mereka yang jujur".

Uskup Belo kemudian mengatakan, "Kami pun mendapat informasi bahwa setelah beliau menjabat Presiden RI, Bapak SBY tidak henti-hentinya berupaya menciptakan perdamaian di kawasan perbatasan Indonesia dengan Timtim".

Uskup Belo juga mengaku, mendapat informasi bahwa SBY sering bertemu dengan Presiden Timtim, Xanana Gusmao, dan ini menunjukkan ketulusannya memperjuangkan perdamaian.

"Dari ceritera singkat yang kami dengar khususnya selama beliau bertugas di Timtim 1986-1988 maka kami memiliki kesan bahwa Bapak SBY adalah salah seorang putra terbaik Indonesia dan prajurit TNI yang humanis. Untuk itu, wajar dan tepat waktunya bagi kami memberikan dukungan kepadanya dalam rangka menerima Nobel Perdamaian 2006," kata Uskup Belo dalam surat itu. (*/cax)