Pemuatan salah satu dari 12 karikatur yang pada mulanya dipublikasi suratkabar Denmark, Jyllands-Posten itu, menurut radio ABC dalam beritanya yang dipantau ANTARA, Senin (06/02), diyakini Abdul Jalal dari Dewan Islam Queensland tidak akan dibalas masyarakat Muslim di negara bagian itu.
Hanya saja, ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa sejumlah kalangan Muslim fanatik di bagian selatan negara bagian itu bisa saja memberi respons terhadap pemuatan salah satu karikatur di The Courier Mail tersebut.
Presiden Federasi Dewan Islam Australia (AFIC), Dr.Ameer Ali, seperti dikutip ABC, mengatakan, penerbitan kartun Nabi Muhammad SAW akan menimbulkan banyak sekali ketersinggungan.
"Reaksinya sudah tampak dimana para imam yang memberi khotbah di masjid-masjid (di Australia-red.) berpendapat bahwa aksi semacam ini hanya melahirkan lebih banyak (Osama) bin Laden daripada menguranginya," kata Ameer.
Terkait dengan isu karikatur dan hubungannya dengan propaganda Barat, Analis intelijen, AC Manulang, mengatakan, dunia Islam harus bersatu menghadapi "propaganda abu-abu" (grey propaganda) dari negara-negara Barat yang mengidentikkan Islam dengan terorisme seperti tampak dalam pencitraan Nabi Muhammad dalam karikatur oleh media Denmark, Norwegia, dan Perancis.
"Dunia Islam harus bersatu menghadapi grey propaganda ini," kata Manullang.
Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen, kata Manullang, menilai keadaan ini sebagai politik seperti terlihat dari pernyataannya bahwa pemerintahannya boleh-boleh saja meminta maaf namun tidak mempunyai hak apapun untuk melarang atau menghentikan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers.
Karikatur itu antara lain menggambarkan Nabi Muhammad memakai sorban yang bagian atasnya dilekati bentuk bom waktu dan memperlihatkan Nabi sebagai orang Badui dengan mata terbeliak sedang menghunus pedang, ditemani dua wanita berbusana hitam.
Gambar tersebut dicetak kembali dalam sebuah majalah Norwegia pada awal bulan lalu, sehingga memicu kemarahan di kalangan negara Islam.
Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen, sempat mengatakan, pemerintahnya tidak dapat bertindak atas pemuatan kartun-kartun Nabi Muhammad yang memicu kemarahan umat Islam itu.
Sejak Jyllands-Posten menerbitkan kartun-kartun itu September lalu, pemerintah Denmark berulang kali membela dan berlindung di balik hak kebebasan berbicara.
"Pemerintah tidak dapat mempengaruhi media. Pemerintah dan negara Denmark karena itu tidak dapat bertanggungjawab atas apa yang diterbitkan oleh media independen," kata Fogh Rasmussen.
Bahkan Pemerintah Denmark mendapat dukungan luas dari publik atas sikapnya menyangkut kartun-kartun itu.
Satu jajak pendapat pendapat menunjukkan 79% warga Denmark berpendapat bahwa Fogh Rasmussen tidak perlu menyatakan permintaan maaf dan 62% mengatakan suratkabar itu hendaknya tidak meminta maaf.
Akibat pemuatan karikatur itu, gelombang unjuk rasa umat Islam terjadi di berbagai negara. Di Afghanistan, seorang dilaporkan tewas, sedangkan di Beirut, kantor Kedutaan Besar Denmark dan Swedia dibakar para pengunjuk rasa yang tersinggung atas pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW itu.
Ratusan anggota dan simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berunjuk rasa di depan Kedubes Denmark di Jakarta, pada Senin guna memprotes pemuatan karikatur yang mereka anggap sangat menyakiti hati kaum Muslimin Indonesia dan dunia. (*/lpk)