< >

Universitas Petra Surabaya Kenalkan Konsep Baru KKN

Senin, 06 Februari 2006 21:07
Kapanlagi.com - Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya, Senin (06/02), memperkenalkan konsep baru program Kuliah Kerja Nyata (KKN), yakni Service Learning (SL) kepada 60 akademisi dari 28 universitas se-Indonesia dengan melibatkan pengamat dan praktisi asing.

Pengenalan SL sebagai konsep baru KKN itu, dilakukan UKP dengan menggelar seminar tentang SL di sebuah hotel di Pacet, Mojokerto dengan pembicara dari pengembang SL di Asia dari Indonesia dan Filipina serta presiden The International Partnership for SL dari AS.

"SL merupakan konsep yang sudah dikembangkan di banyak negara seperti Afrika, Timur Tengah, Amerika, Eropa, Rusia, dan Asia sendiri," kata presiden The International Partnership for SL & Leadership dari AS, Linda A Chrisholm PhD.

Menurut dia, SL bukan seperti KKN yang hanya bersifat memberi kepada masyarakat, tapi ada proses pembelajaran dari mahasiswa kepada masyarakat, sedangkan mahasiswa juga belajar kepada masyarakat.

"Hubungan timbal balik itu muncul dari empat hal yang dilakukan dalam SL, yakni perawatan kesehatan dalam bentuk sanitasi, pengembangan masyarakat dalam bentuk pemberdayaan ekonomi mikro, penyadaran hak-hak masyarakat, dan pengenalan lingkungan dalam bentuk pengetahuan akan hidup sehat dan berdaya," ucapnya.

Senada dengan itu, Willi Toisuta PhD selaku penggagas dan pengembang SL dari Indonesia, menegaskan bahwa hubungan timbal balik itu terjadi, karena SL melalui perencanaan yang bukan top down dari universitas atau pemerintah daerah.

"SL itu tidak langsung terjun ke lokasi SL, melainkan didahului dengan riset yang melibatkan mahasiswa, dosen, dan masyarakat tentang kebutuhan masyarakat setempat. Jadi, ada survei dan wawancara dengan masyarakat," ujarnya.

Hal itu, berbeda dengan KKN yang biasanya bersifat pembangunan fisik yang ditentukan universitas atau pemerintah daerah. Padahal masyarakat setempat belum tentu membutuhkan hal itu secara mendesak.

"Jadi, bukan main keroyok sebuah desa, tapi melalui riset dan survei," katanya yang dalam penjelasannya juga didampingi dosen UKP Dra Sally Suhonggo M.Tourism dan Lisa Nugroho dari Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) UKP.

Selain itu, SL juga disesuaikan dengan bidang studi mahasiswa yang akan mengikuti program itu. "Jadi, SL itu bisa dilakukan mahasiswa dalam satu bidang, kemudian mahasiswa dari bidang lain melakukan di tempat lain," tuturnya.

Namun, SL juga bisa dilakukan secara interdisipliner atau bahkan lintas universitas. "Bisa saja ada satu desa yang digarap mahasiswa dari berbagai disiplin sesuai bidang yang berbeda-beda, tapi bisa juga jika tidak ada bidang di suatu universitas dapat mengajak universitas lain," ujarnya.

Ia mencontohkan, problem kemiskinan dapat didekati dengan perbaikan sistem pertanian dan tingkat kesehatan melalui kerja sama fakultas ekonomi, kedokteran, pertanian, pendidikan, gizi, dan sebagainya.

Dalam kesempatan itu, Betty Abregana PhD selaku penggagas dan pengembang SL dari Filipina menyatakan di Filipina semula dikenal konsep KKN seperti di Indonesia, namun saat ini sudah ada perkembangan ke arah SL.

"Mahasiswa fakultas sastra, misalnya, dapat membagikan cerita atau menggali cerita tradisional di suatu daerah. Jadi, mereka bukan membangun jembatan seperti dalam KKN," ungkapnya.

Bahkan, bila diharuskan ada pembangunan pipa untuk saluran air bersih pun tidak hanya membangun pipa, melainkan juga menyadarkan masyarakat akan arti penting hidup sehat dan bersih.

Seminar SL yang dilakukan dua hari (6-7 Februari) itu, juga membahas konsep SL dimasukkan ke dalam kurikulum dan menjadi kebijaksanaan universitas. UKP sendiri sudah memiliki kebijaksanaan SL, tapi pelaksanaan SL masih belum optimal. (*/lpk)