"Saya ini merokok sejak usia 15 tahun. Selama ini per hari saya menghabiskan dua bungkus, atau 32 batang rokok. Tapi, setiap menjelang tidur saya berlatih pernafasan dan senantiasa mencoba tersenyum," ujar Pramoedya di hadapan publik yang merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 dirinya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin malam.
Pram --demikian sapaan akrab bagi Pramoedya-- dalam acara HUT yang dimeriahkan dengan pembacaan puisi, permainan musik dan lagu dari para penggemarnya, serta dialog yang dipandu budayawan Taufik Rahzen sempat meminta diizinkan merokok di panggung diskusi.
"Takut? Lha takut apa? Rokok ini rokok saya sendiri kok," ujarnya seraya terkekeh, sehingga mendapat tepukan riuh dari ratusan penggemarnya di teater tersebut. Pasalnya, Pram sempat ditanya oleh Taufik, apakah tidak takut dengan Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta mengenai larangan merokok di sembarang tempat.
Namun, Pram menimpali bahwa kebiasaan merokoknya diimbangi dengan upaya kerasnya selalu berlatih pernafasan setiap menjelang tidur malam. "Saya tarik nafas sampai penuh dan hembuskan pelan-pelan. Ini selalu saya lakukan setiap menjelang tidur malam," ujarnya.
Selain itu, mantan juru ketik di Kantor Berita Domei (ANTARA zaman penjajah Jepang) pada 1942-1944 tersebut mengungkapkan, senantiasa tersenyum dan membuang semua hal yang membebani pikiran juga menjadi kebiasaannya.
"Tersenyum itu membuat banyak otot kita yang lelah menjadi rileks. Banyak syaraf kita juga mengendur saat tersenyum," kata unggulan peraih Nobel Sastra 1995 tersebut.
Pram juga membuka rahasia panjang umur dan cara menjaga semangat melalui kebiasaan bercocok tanam layaknya petani.
"Bertani membuat kita menangkap klorofil dari daun, sehingga menyehatkan tubuh, termasuk pandangan mata," ujar peraih Penghargaan Ramon Magsasay Bidang Sastra 1995 di Filipina itu.
Ia pun menimpali, "Bertani juga menggugah semangat hidup kita menghargai pekerjaan petani yang selalu berupaya memproduksi hasil bumi. Negeri ini memerlukan semangat ini. Berproduksi. Negeri ini sudah terlampau banyak mengonsumsi, sehingga suburlah korupsi," kata Doktor Honoris Causa Bidang Sastra dari Universitas Michigan, An Arbor, Amerika Serikat (AS), pada 1999 tersebut.
Bicara mengenai produktivitas, Pram terlihat sangat bersemangat, sehingga ia pun menantang generasi muda untuk senantiasa produktif dan harus mampu melahirkan pemimpin.
"Pemuda juga bagian semangat saya, seperti semangatnya generasi Sumpah Pemuda 1928. Selama ini, sejak Soekarno, kita bisa melihat generasi muda selalu membuat sejarah, tetapi saya belum melihat lahirnya pemimpin," katanya.
Pram juga menambahkan, produktivitas pemuda seharusnya tidak boleh dibendung, karena bangsa yang mampu mengembangkan produksi generasi mudanya akan mudah meraih kejayaan.
"Negeri ini terlampau banyak konsumsi, sehingga setiap pendatang yang produktif mudah menjajah kita. Bahkan, untuk menjadi kuli ke luar negeri pun di negeri ini ada yang bersedia membayarnya," demikian Pramoedya Ananta Toer. (*/rit)