"Usulan restrukturisasi sedang berlangsung, Garuda dan kementerian BUMN sebagai pemegang saham akan menemui kreditor yang tergabung dalam European Credit Agency (ECA)," kata Senior Vice President PT Garuda Indonesia Alex Manaklaran sebelum rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta, Selasa malam.
Pertemuan Garuda bersama Meneg BUMN Sugiharto dengan kreditor ECA, yang akan melibatkan juga Duta Besar (Dubes) Inggris, Jerman dan Perancis di Indonesia sebagai negara yang tergabung dalam ECA, dijadwalkan pada Rabu (8/2) di kantor kementerian BUMN.
Alex menjelaskan, pada pertemuan awal kreditor menginginkan "update" rencana bisnis Garuda, terutama terkait dengan dampak peristiwa bom Bali.
"Selain itu, kreditor juga minta jaminan pemerintah Indonesia berupa kesanggupan membayar utang, suntikan dana, dan jaminan kelangsungan bisnis Garuda," katanya.
Dari US$800 juta utang Garuda itu, sebesar US$510 juta merupakan utang ke ECA, US$130 juta ke pemegang surat utang (promisorry note), sedangkan sisanya US$160 juta ke Bank Mandiri dan kepada PT Angkasa Pura I dan II.
Diketahui bahwa Garuda juga tidak sanggup membayar utang sebesar US$55 juta kepada pemegang "promissory note" yang jatuh tempo pada akhir Desember 2005.
Menurut Alex, dukungan pemerintah kepada Garuda dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan juga terlihat dari komitmen pemerintah yang akan memberi talangan sebesar US$56 juta.
"Dana talangan dimaksudkan untuk menambah modal kerja perusahaan," kata Alex.
Dalam arahannya, kementerian BUMN mendorong perusahaan penerbangan "plat merah" ini agar melakukan aliansi strategis dengan perusahaan penerbangan skala global, selain melakukan tranformasi bisnis untuk mengantisipasi sengitnya persaingan di industri penerbangan.
"Apa pun pola restrukturisasi yang akan diajukan kepada kreditor, namun usulan aliansi strategis merupakan salah satu pilihan yang harus dijalankan perusahaan," katanya.
Alex menjelaskan, dalam mencari mitra stragisnya, Garuda saat ini sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan perusahaan penerbangan asing, khususnya dari negara-negara Eropa. (*/rit)