Eksplorasi Blok Cepu Tertunda, Rp85 M Hilang Per Hari
Kapanlagi.com - Belum jelasnya kesepakatan Joint Operation Agreement (JOA) antara Pertamina dan Exxonmobil hingga menunda kegiatan eksplorasi dan eksploitasi ladang minyak Blok Cepu, mengakibatkan Indonesia kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp85 miliar per hari. Ketua Fraksi Golkar DPRD Bojonegoro, Jatim, Drh.Syarif Usman di Bojonegoro, Selasa malam, mendesak pemerintah segera turun tangan menyelesaikan masalah JOA tersebut, agar potensi minyak Blok Cepu dapat secepatnya dinikmati. "Sulit dipahami kalau pemerintah tidak turun tangan dan membiarkan masalah JOA tersebut berlarut-larut. JOA harus segera ditandatangani agar uang dari Blok Cepu tidak terus menguap," katanya menegaskan. Menurut Syarif, molornya penandatangan JOA untuk penentuan operator utama Blok Cepu antara Pertamina dan Exxonmobil tidak boleh dibiarkan berkepanjangan dan harus segera dituntaskan, karena hal ini juga menyangkut kredibilitas Indonesia dimata investor internasional. "Kalau tidak segera dituntaskan dan berlarut-larut, ini akan menjadi preseden buruk bagi Indonesia dimata investor internasional," katanya. Direktur LSM Winner Center Bojonegoro ini mengemukakan, ladang minyak Blok Cepu merupakan salah satu proyek besar yang akan membantu Indonesia dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Dengan lebih dari 85 % pemasukan yang didapat dari proyek minyak tersebut serta dari pendapatan pajak, Blok Cepu akan sangat berperan dalam meningkatkan investasi dan pendapatan negara. "Apabila produksi minyak Blok Cepu bisa mencapai sekitar 170 ribu barel per hari dengan asumsi harga minyak dunia sekitar 60 dolar AS per barel, maka itu setara dengan 10,2 juta dolar AS per hari. Pendapatan bersih dari produksi itu lebih kurang 9,2 juta dolar AS per hari atau sekitar Rp85 miliar," kata Syarif. Selain itu, bagi Kabupaten Bojonegoro, produksi ladang minyak Blok Cepu dipastikan akan semakin meningkatkan pendapatan daerah dan memacu pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya M.Nafiq mengatakan, selain kehilangan kesempatan dalam bentuk pendapatan negara, Indonesia juga kehilangan kesempatan penyerapan ribuan tenaga kerja. "Secara tidak langsung, kesempatan penciptaan lapangan kerja dari pengoperasian blok Cepu juga sangat besar. Begitu juga ekonomi daerah seperti Bojonegoro, Blora, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang akan sangat terbantu dengan beroperasinya Blok Cepu," katanya. Diperkirakan sekitar 3.000 tenaga kerja akan terserap dalam proyek tersebut secara langsung dan ribuan lainnya akan punya kesempatan terserap di sektor lain dengan masuknya investor. Untuk merealisasikan proyek Blok Cepu, menurut Nafiq, diperlukan investasi sekitar Rp20 triliun, diantaranya untuk membangun berbagai fasilitas produksi dan infrastruktur pendukung. Semua aktivitas investasi itu akan berdampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi daerah di Bojonegoro, Blora dan daerah-daerah sekitarnya serta propinsi Jateng dan Jatim secara keseluruhan. Kandidat doktor ekonomi ini menambahkan, Indonesia akan sangat dirugikan dengan ketidakpastian pengelolaan Blok Cepu karena hampir 93 % manfaat proyek itu jatuh ke Indonesia. "Jelas Indonesia kehilangan peluang sejak berlarut-larutnya proyek ini, karena saat ini harga minyak dunia meningkat pesat. Minyak Blok Cepu diperkirakan akan meningkatkan 20 % produksi minyak nasional," katanya menambahkan. (*/rit) |