Demikian dinyatakan oleh mantan wakil ketua departemen futsal PSSI dan juga mantan pelatih tim nasional, Justinus Lhaksana disela-sela acara Coaching Clinic Kelme Futsalismo di Universitas Surabaya, Senin, yang diikuti 61 pelatih dari berbagai kota di Jawa Timur, termasuk satu orang dari Papua.
"Kejuaraan Asia semakin dekat dan hingga kini belum ada kabar yang jelas mengenai pembentukan tim nasional dan siapa pelatihnya," kata Justinus yang kini aktif mengurus Adjie Massaid Futsal Club itu.
Lebih lanjut ia menyatakan sudah bukan masanya lagi pembentukan timnas futsal, baik pemain maupun pelatihnya, dilakukan dengan instan tanpa proses seleksi yang ketat.
"Seharusnya mereka telah mulai mengumpulkan kandidat pemain dan pelatih, lalu mereka semua diuji kemampuannya sehingga yang terpilih adalah yang terbaik," jelasnya.
Proses seleksi sangat krusial karena, menurut pria yang pernah menimba ilmu futsal di Belanda itu, di Indonesia belum banyak kompetisi dan pembinaan pemain pun masih jauh dari futsal modern yang kini berkembang di banyak negara.
Ia mengungkapkan masih sedikit orang di Indonesia, baik pemain maupun pelatih, yang benar-benar mengerti cara bermain dan taktik olahraga sepakbola mini itu.
Pada Kejuaraan Asia 2005 timnas yang ditukangi Justinus gagal lolos ke babak delapan besar karena hanya menduduki peringkat kedua grup, tetapi ia berhasil mengangkat posisi Indonesia ke peringkat 20 dunia dari 105 negara.
Senada dengan itu, Ketua Departemen Futsal Pengda PSSI DKI Jakarta, Andi Zamzani, juga menegaskan betapa pentingnya proses seleksi tersebut.
"Khusus untuk pelatih, saya mengusulkan agar beberapa nama mereka yang kompeten, termasuk Justinus, diadu kehebatannya. Dalam hal ini masing-masing mereka mempresentasikan program yang akan diterapkan dalam timnas nanti. Baru kita pilih yang terbaik," ujar Andi yang juga direktur Difamata Sports, sebuah event organizer yang banyak menyelenggarakan kegiatan futsal di Indonesia.
Ia menekankan agar BFN tidak membentuk tim yang asal jadi sehingga uang rakyat yang digunakan untuk membiayai timnas tidak akan terbuang percuma.
Proses Panjang
Selain itu Andi dan Justinus juga mengatakan untuk mengembangkan olahraga futsal di Indonesia masih membutuhkan proses yang panjang.
"Saya terlibat dalam acara coaching clinic ini mulai dari Jakarta dan berdasarkan pengamatan saya, tidak ada pelatih yang benar-benar mengerti dasar permainan dan taktik futsal yang sangat berbeda dari sepakbola biasa," kata Justinus.
Namun demikian, ia optimistis akan perkembangan futsal karena para peserta acara itu sangat antusias mengikuti setiap materi yang diberikan.
"Pemain futsal yang baik baru bisa dihasilkan oleh pelatih yang baik, jadi kegiatan ini adalah peletakan dasar bagi perkembangan futsal di Indonesia," jelasnya.
Sebelum di Surabaya, Coaching Clinic Kelme Futsalismo telah dilangsungkan di Jakarta dan Bandung. Dua kota terakhir yang akan menjadi tempat acara dilangsungkan adalah Medan dan Balikpapan. (*/lpk)