Tim Investigasi FPKS Temukan Selisih Harga Beras Impor

Kapanlagi.com - Tim investigasi kebijakan impor beras dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) menemukan adanya selisih harga US$0,5 per ton antara harga dari ekspotir Vietnam dengan data harga yang diberikan surveyor.

"Kami dari tim investigasi PKS akan mengajak FPDIP bertemu Dirut Perum Bulog untuk menanyakan hal itu. Kita perlu konfirmasi antara harga yang kita dapatkan di sana (Vietnam) dengan yang kita dapatkan di sini (dari surveyor)," kata anggota FPKS yang melakukan investigasi ke Vietnam, Soeripto, di Jakarta, Selasa.

Soeripto menjelaskan, harga CIF (Cost, Insurance and Freight--harga sampai di pelabuhan tujuan) adalah US$280,5 per ton sedangkan harga beras impor menurut surveyor adalah US$281 per ton.

"Harga itu hasil negosiasi bukan tender, tidak apa-apa tapi kami berharap kalau bisa dilakukan tender seperti yang dilakukan Filipina," katanya.

Selain itu, kata Soeripto, untuk 2006 kontrak ekspor beras yang ditandatangani oleh Vinafood adalah sebesar 150 ribu ton.

"Kami tidak tahu apakah ada perusahaan lain yang mengekspor beras ke Indonesia di luar Vinafood," katanya.

Soeripto merencanakan tim investigasi gabungan FPKS dan FPDIP akan menemui Dirut Perum Bulog pada Rabu (15/2).

Berdasarkan keterangan yang didapat Soeripto, Vinafood pada 2006 berencana mengekspor satu juta ton beras yang terdiri dari 300 ribu ton ke Filipina, 150 ribu ton ke Indonesia, dan sisanya antara lain ke Timur Tengah.

Perum Bulog mendapatkan ijin impor beras dalam 2006 sebesar 110 ribu ton namun hanya terealisasi 83.300 ton. Sebelumnya, pada November 2005 realisasi ijin impor beras sebesar 70 ribu ton hanya terealisasi 68 ribu ton, dua kapal yang telah berangkat dibatalkan karena waktu sudah habis.

Menurut wawancara Radio 68H dengan CEO Vinafood 2, Truong Thanh Phong pada 7 Februari 2006, dalam kontrak Vinafood 2 dengan Bulog, harga jual beras ke Indonesia adalah US$280,5 per ton diterima di pelabuhan.

Pada kesempatan itu, Truong Thanh Phong menyebutkan bahwa setelah ada kesepakatan antara pemerintah dua negara, Bulog dan Vinafood menandatangani kontrak jual beli beras sebanyak 250 ribu ton pertahun.

Pada November 2005, setelah masuk beras sebanyak 68 ribu ton, Vinafood berencana menambah 50 ribu ton lagi namun dibatalkan oleh Indonesia.

Truong Thanh Phong mengatakan Vinafood juga mengalami kerugian finanasial akibat tindakan Indonesia yang menghentikan dan memulai kembali impor beras. Menurut dia, Vinafood seharusnya meminta ganti rugi atas tindakan itu, tetapi pemerintah Vietnam tidak akan mengijinkannya karena ingin menjaga hubunganbaik dengan Indonesia. (*/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com