< >

Antisipasi HIV/AIDS, Diknas dan UNESCO Terapkan 'FRESH'

Rabu, 22 Februari 2006 14:54
Kapanlagi.com - UNESCO Jakarta dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjajaki kemungkinan penerapan FRESH (Focusing Resources on Effective School Health) di bawah payung "Pendidikan Untuk Semua" atau "Education for All" untuk mengantisipasi peningkatan signifikan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia dalam 10 tahun terakhir.

"Mengingat penyebaran HIV/AIDS yang sangat cepat di mana hampir separuhnya menyerang usia produktif maka sudah sepantasnya jika pengetahuan mengenai HIV/AIDS disosialisasikan kepada anak-anak sedini mungkin," kata perwakilan UNESCO Bangkok Simon Bakar di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, FRESH bertujuan untuk menyebarluaskan pendidikan pencegahan HIV/AIDS dan permasalahan sekolah melalui beragam cara.

"FRESH terdiri dari empat komponen yaitu kebijakan, air bersih, pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan," katanya.

Program tersebut, kata dia, diharapkan dapat membantu anak untuk tahu lebih baik mengenai HIV/AIDS sehingga bisa menghindari perilaku yang berbahaya.

Dia juga menegaskan bahwa pendidikan mengenai pengetahuan HIV/AIDS hendaknya diberikan pada anak-anak sedini mungkin.

"Makin cepat makin baik, sedini mungkin karena bahaya akan penyebaran HIV/AIDS," katanya saat ditanya usia anak yang paling tepat untuk mengetahui HIV/AIDS.

Sementara itu Country Director dari PLAN International MK Ali mengatakan bahwa FRESH sangat penting karena tindakan-tindakan pencegahan jauh lebih baik dari pengobatan.

"Program itu akan membantu anak-anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab," ujarnya.

Sedangkan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, sekalipun mengubah perilaku dan cara pandang seseorang menjadi positif dalam waktu singkat mustahil tetapi hendaknya tetap optimis jika pendidikan dapat berhasil.

"Jika metode yang digunakan lebih baik maka target akan tercapai. Inti mengenai HIV/AIDS adalah mendobrak stigma yang dapat dilakukan dengan mulai berbicara tentang hal itu secara terbuka walaupun ada aspek-aspek kultural yang harus diperhatikan," ujarnya.

Terhadap masalah stigma, Simon mengatakan bahwa Thailand terbukti sukses mengatasinya melalui kampanye duduk dan berbagai gelas yang sama dengan penderita HIV/AIDS di kalangan pelajar.

"Pendidikan mengakibat anak-anak tahu sedini mungkin akan bahaya HIV/AIDS, cara menghindari dan bagaimana hidup berdampingan dengan penderita HIV/AIDS," katanya. (*/rit)