"Membangkitkan idola masyarakat terhadap atlet dari cabang olahraga tertentu, bukan pekerjaan gampang, tapi membutuhkan semangat dan kerja keras," kata Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, paa Musorprov KONI Aceh, di Banda Aceh, Sabtu.
Menurut Agum, dengan adanya atlet idola, secara otomatif telah mendorong minat masyarakat di daerah ini untuk menekuni cabang olahraga tersebut, baik dari mereka dalam kelompok usia dini maupun, remaja dan orang dewasa.
Atlet idola tersebut akan menumbuhkan semangat fanatisme masyarakat, seperti saat pebulutangkis Indonesia Taufik Hidayat mengukir prestasi pada tingkat dunia, di Athena, Yuni, lalu, saat itupula fanatisme masyarakat muncul.
"Saya sendiri merasa terharu ketika melihat bendara Merah Putih untuk pertama kali berkibar di pentas dunia serta bibir saya bergetar dan air mata saya menetas saat lagu Indonesia berkumandang di Athena," tambahnya.
Begitu juga dengan di Aceh, dari cabang sepakbola masyarakat mengidola streker Persiraja, Irwansyah serta peanggar andalan Aceh, Alkindi (keduanya meninggal saat tsunami), namun kini tinggal Bambang Maulidin di Pelatnas Jakarta.
"Atlet idola masyarakat itu perlu dibangkitkan kembali, termasuk di Aceh agar dunia olahraga di daerah ini berkembang lebih pesat," tambahnya.
Sebetulnya, kata Agum Gumelar, atlet idola masyarakat sudah ada sejak lama, bukan saja di Indonesia, tetapi diberbagai negara juga ada, seperti di Indonesia pada masa jayanya pembulutangkis Rudi Hartono dan pemain sepakbola Ramang.
Menurut Agum, akhir-akhir ini atlet idola masyarakat tidak seharum pada masa lalu, yakni hampir semua komponen masyarakat Indonesia mengenalnya, mulai dari anak-anak hingga usia dewasa tetap mengenal dengan namanya Rudi Hartono.
"Nah, kedepan, KONI Aceh juga harus membangkitkan kembali atlet idola, yakni Irwansyah kedua atau Alkindi kedua, namun semua itu memerlukan keseriusan para pembinaan serta membutuhkan waktu dan dana yang cukup besar," demikian Agum Gumelar. (*/erl)