"Para pekerja di Jabodetabek butuh rusun untuk efisiensi waktu pekerja. Ini yang harus dibangun karena rumah sehat sederhana saat ini harganya sudah tinggi dan kalau dibangun di Jakarta rasanya sudah tidak memungkinkan," kata Agus Dinar, Country Manager BCI Asia, perusahaan informasi konstruksi internasional, di Jakarta, Minggu.
Pembangunan rusun, katanya, akan mengurangi masalah sebagian besar masyarakat pekerja di Jakarta. "Saat ini, para pekerja terutama golongan menengah ke bawah mengambil rumah di daerah yang jauh dari tempat kerjanya, sehingga membuat ongkos transportasi tinggi dan tidak efisiensi," ujarnya.
Agus mengakui, banyak pembangunan rusun yang tidak tepat sasaran dan kepemilikannya sudah berpindah tangan lebih dari satu kali. Namun, ia menambahkan, hal itu dapat diantisipasi dengan menetapkan dewan pengawas di tiap rusun.
Agus juga menyarankan agar pengembang tidak berhenti dalam membangun rumah, mengingat masih tingginya selisih antara kebutuhan dan rumah yang dibangun. Menurut Agus Dinar, saat ini dari kebutuhan enam juta rumah, yang dibangun sepanjang 2005 sebanyak 75 ribu sampai 85 ribu unit, sehingga terjadi kekurangan yang sangat besar.
"Sebagian besar perumahan yang dibangun sekarang terutama untuk kalangan menengah ke atas atau mereka yang tidak terpengaruh oleh inflasi dan memiliki daya beli yang tinggi," ujarnya.
Developer, katanya, dari segi bisnis tentu mengutamakan pembangunan rumah yang laku dijual dan konsumennya tidak 'bermasalah' dalam hal pembayaran.
"Pengembang enggan membangun rumah kelas menengah ke bawah karena harga jual yang tidak tinggi. Daya beli masyarakat menengah ke bawah juga banyak yang bermasalah," ujar Agus Dinar.
Menurutnya, agar daya beli masyarakat menengah ke bawah dan pengembang bergairah dalam membangun rumah bagi mereka, Pemerintah perlu menghapus pajak-pajak yang dapat menambah biaya pembangunan sebuah rumah sederhana sehat. (*/bun)