Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Direktur Regional Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Jayawickramarajah pada lokakarya bertema Ketimpangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan di Chiang Mai, Kamis (09/03).
"Di beberapa negara migrasi SDM kesehatan terutama berkaitan dengan minimnya gaji, fasilitas kerja yang terbatas dan kurang pasokan obat-obatan," katanya.
Situasi itu, kata dia, menyebabkan migrasi internal di kalangan pekerja kesehatan menuju lokasi dengan kondisi yang lebih baik.
"Di lapangan dapat ditemui sejumlah tenaga kesehatan yang melakukan migrasi untuk mendapatkan fasilitas dan lingkungan yang lebih bagus untuk keluarganya," ujarnya.
Oleh karena keterbatasan yang ada maka banyak tenaga kesehatan yang kurang berminat untuk berada di daerah tertinggal di mana justru akan ditemui lebih banyak orang yang membutuhkan bantuan petugas kesehatan.
Selain itu, kata dia, di sejumlah negara ada juga kasus di mana para tenaga kesehatan yang bekerja di sektor pemerintahan terpaksa melakukan pekerjaan rangkap untuk mencapai standar kehidupan yang lebih baik.
Peningkatan ketimpangan pendapatan seorang tenaga medis di daerah tertinggal dengan kota besar akhirnya menggeser fungsi dari petugas kesehatan.
"Profesi tenaga kesehatan tampaknya dianggap sebagai kontrak bisnis daripada kontrak sosial yang tentu saja diharapkan profesionalismenya," ujarnya.
Kesenjangan itu, kata dia, mengakibatkan banyak tenaga kesehatan di India yang berkualitas bekerja di luar negeri seperti Timur Tengah, Inggris atau Amerika Serikat.
Untuk mencegah migrasi besar-besaran maka pemerintah dan pihak terkait hendaknya mulai memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan.
"Ketimpangan tercipta secara struktural antara lain karena manajemen yang buruk dari pemerintah. Bahkan kebijakan pemerintah untuk memberikan izin bagi tenaga kesehatan asing juga mampu menjadi penyebab ketimpangan," ujarnya. (*/lpk)