< >

Traveller Dorong Penyebaran Flu Burung

Kamis, 09 Maret 2006 22:04
Kapanlagi.com - Guru besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr dr H Suharto MSc DTM&H SpPD-KTI menilai, traveller atau efek transportasi dari manusia telah mendorong penyebaran penyakit infeksi seperti HIV/AIDS, SARS, flu burung, malaria, demam berdarah, polio, dan sebagainya.

"Sejak 1990-an, banyak penyakit infeksi baru seperti HIV/AIDS, SARS, dan flu burung, bahkan penyakit infeksi lama yang hilang pada kurun 1980-1990 pun kini muncul kembali seperti malaria, polio, dan demam berdarah," katanya di Surabaya, Kamis (09/03).

Menjelang pengukuhan dirinya sebagai guru besar pada 11 Maret 2006, spesialis penyakit dalam itu menjelaskan, kondisi geografis Indonesia yang terletak di antara lima benua menyebabkan traveller dari luar Indonesia membawa HIV/AIDS ke Indonesia.

"Tapi, traveller itu juga bisa merupakan seorang transmigran, karena malaria di Jawa sudah hilang melalui vaksinasi dan penyemprotan yang gencar, setelah tahun 1990-an tiba-tiba muncul lagi, akibat dibawa transmigran dari luar Jawa yang mungkin saja belum tuntas dalam vaksinasi," katanya.

Sementara itu, katanya, flu burung diyakini juga akibat ulah manusia yang menyukai binatang yang semula kebal terhadap flu, tapi binatang yang dibawa ke kota tersebut kemudian menularkan virusnya pada binatang lain yang tidak kebal flu.

Menurut dia, hal itu berarti penyakit infeksi tersebut mengalami penyebaran secara "mobile" dan penyebaran baru tidak jarang diikuti munculnya varian baru, sehingga vaksin atau obat yang selama ini ada justru tidak mampu lagi mengobati.

"Pergerakan penyakit infeksi yang sangat cepat dengan proses globalisasi yang ada saat ini, membuat kalangan farmasi dituntut kerja keras memproduksi obat-obatan yang baru, melalui dukungan kalangan universitas yang terus meneliti vaksin untuk menemukan vaksin baru," katanya.

Ia menilai sikap yang benar dalam mengetahui "kekuatan" penyakit infeksi akan menghasilkan kemampuan mengukur "ketahanan" diri sendiri, sehingga masyarakat tidak akan mudah terserang penyakit seperti saat ini.

"Sekarang ini, orang belum yakin betul atau masih taraf menduga-duga, tapi sudah panik, apalagi pers juga mendukung, padahal cara seperti itu merupakan sikap yang tidak benar. Mungkin bisa dilakukan seperti ibu-ibu yang tergabung dalam PKK dan Posyandu di masa lalu," ujarnya.

Di masa lalu, katanya, saat muncul penyakit infeksi, maka ibu-ibu PKK dan Posyandu langsung berperan menjadi sensor informasi bagi masyarakat untuk memberikan informasi yang benar tentang penyakit, sehingga kepanikan menghadapi penyakit infeksi baru teratasi.

Dalam pengukuhan pada 11 Maret 2006, Prof Suharto akan menyampaikan pidato bertajuk "Menghadapi Penyakit Infeksi Baru dan Penyakit Infeksi Yang Muncul Kembali". Pengukuhan akan dilaksanakan bersama guru besar FKG Unair Prof Dr drg H Latief Mooduto MS Sp-KG. (*/lpk)