< >

Isu Pemisahan KONI dan KOI Akan Merusak Mental Atlet

Minggu, 12 Maret 2006 09:17
Kapanlagi.com - Isu pemisahan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite olaharga Indonesia (KOI) akhir-akhir ini dikhawatirkan akan berdampak besar pada proses pembinaan atlet dan akhirnya mereka akan menjadi korban.

Akhir-akhir ini organisasi olahraga ini selalu berkutat dengan masalah interen saja, sedangkan proses pembinaan para atlet nyaris tak berjalan sebagaimana, kata Wakil Ketua Umum KONI Sri Sudono Sumarto kepada wartawan usai pembukaan Musyawarah Olahraga Provinsi (Musrprov) KONI Bengkulu di Bengkulu, Sabtu (11/03).

Semestinya KONI pusat memfokuskan pembinaan atlet guna mengahadapi Pekan Olaharga Nasional (PON) ke XVII di Kalimantan Timr tahun 2008, sekalipun program itu terus berjalan, tapi akibat sering berkutat pada masalah organisasi ternyata membawa pengaruh kepada atlet.

Ia mencontoh, pada pesta olahraga SEA Games di Manila belum lama ini, prestasi Indonesia sangat memprihatinkan, padahal sebelumnya KONi sudah menempa sekitar 100 orang atlit berperestasi selama enam bulan di luar negeri.

Rupanya pihak tuan rumah (Manila-red) juga melakukan hal serupa, tapi jumlah atletnya yang dikirim ke luar negeri mencapai 200 untuk jangka waktu dua thaun, sehingga tuan rumah mampu unggul di sejumlah cabang.

Melihat kenyataan itu, hendaknya pembinaan atlit berprestasi itu dilakukan sejak dari daerah-daerah, dengan target bisa membina satu cabang unggulan, tapi bisa beraing pada tingkat nasional bahkan dunia.

Salah satu atlet asal Bengkulu pada kejuraan SEA Games di Manila sempat memperkuat cabang angkat berat dan berhasil meraih mendali perak, hal ini menunjukkan pembinaan di daerah harus serius.

Di masa datang hendaknya Bengkulu bisa menambah cabang baru demi menjaga nama baik tanah air melalui duta atletnya di luar negeri.

Wakil Gubernur Bengkulu Drs Syamlan dalam sambutannya mengatakan, pembinaan atlit berperestasi di daerah hendaknya selalu ditingkatkan guna mencari bibit yang potensi di daerah.

Selama ini atlet Bengkulu acapkali hengkang ke luar daerah, mungkin akibat faktor pembinaan atau masa depannya merasa kurang diperhatikan oleh daerah, sehingga mereka lebih memilih pindah ke daerah lain karena adanya jaminan.

Di masa datang, atlit hendaknya jangan dipacu sekedar berperestasi, tapi masa depannya harus diperhatikan misalnya diberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya, termasuk kemungkinan diterima menjadi PNS.

Ketua Harian KONI Provinsi Bengkulu Drs zainal Abidin mengatakan, pembinaan atlet di Bengkulu selama ini sudah berjalan, namun untuk meningkatkan jumlah dan prasarana latihan masih tersangdung minimnya dana.

Karena itu, pihaknya mengharapkan semua pihak terkait di daerah itu agar betul-betul memperhatikan masalah kesejahteraan atlit dan pembinaan olahraga. (*/lpk)