< >

Senat Setuju Naikkan Plafon Utang AS Jadi US$9 Triliun

Jum'at, 17 Maret 2006 19:46
Kapanlagi.com - Senat Amerika Serikat (AS) Kamis menyetujui untuk meningkatkan plafon utang nasional negara itu sebesar US$781 miliar hingga menjadi sekitar US$9 triliun, guna mencegah terjadinya krisis pendanaan yang membawa malapetaka bagi pemerintah federal.

Persetujuan itu merupakan yang kempat kalinya selama masa kepemimpinan Presiden AS George W. Bush bahwa Kongres telah diminta untuk menyetujui pemerintah federal untuk lebih banyak berutang dalam rangka membayar tagihannya tepat waktu.

Menteri Keuangan (Menkeu) John Snow Kamis menyambut baik keputusan senat itu.

"Saya menghargai Kongres karena melindungi nasib dan kepercayaan terhadap AS dengan langkah hari ini mengenai batas utang," kata Menkeu AS dalam sebuah pernyataan.

"Perundangan ini menjamin bahwa AS dapat memenuhi janji yang telah diucapkan seperti pembayaran kesehatan dan keamanan sosial serta bantuan untuk korban badai yang terjadi pada 2005," katanya.

Menkeu Snow telah mengeluarkan peringatan penting kepada Kongres bahwa batas utang menurut undang-undang yang sebesar US$8,184 triliun akan tercapai pekan ini, dan bahwa pemerintah kemudian akan kehilangan kekuatan meminjamnya.

Sekali pemerintah AS mencapai plafon tersebut, hal itu dapat menjadi ancaman ketidakmampuan (default) atas utangnya dan dapat menghilangkan kemampuan untuk menaikkan kepercayaan di pasar modal pada masa-masa mendatang.

Anggota senat dari Partai Demokrat di Kongres menolak keras peningkatan batas utang tersebut jika administrasi Bush, yang mengurusi peningkatan besar defisit anggaran AS, tidak mengekang nafsu rakusnya terhadap dana.

"Ketika terjadi defisit, presiden ini memiliki seluruh catatan. Defisit terbesar ketiga dalam sejarah negara telah terjadi di bawah pengawasan administasi ini," kata Senator dari Partai Demokrat Harry Reid di ruang Senat Kamis.

"Presiden sering berbicara tentang tanggung jawab personal." katanya.

"Berdasarkan patokan itu, jika presiden dan Kongres yang dikontrol Republik secara dramatis dan dengan segera tidak mengubah masalah ini, mereka tidak akan dinilai sangat dihormati atas kemampuannya yang mengurus keuangan negara," kata Reid. (*/lpk)