< >

Menhut: Kerusakan Hutan Sudah Stadium Empat

Minggu, 19 Maret 2006 11:42
Kapanlagi.com - Menteri Kehutanan MS Kaban menyatakan, kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat parah, karena ibarat kanker, kondisi hutan di negeri ini sudah memasuki stadium empat.

"Bayangkan, negara dengan luas hutan 120 juta hektare, yang rusak mencapai 59 juta hektare. Tiap tahun luas hutan yang mengalami degradasi sekitar 2,8 juta hektare. Itu karena kita teledor," katanya saat dialog dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan se Jawa Tengah di Kopeng, Kabupaten Semarang, Sabtu.

Ikut hadir dalam dialog tersebut Bupati Kabupaten Semarang Bambang Guritno beserta Wakil Bupati Siti Ambar Fathonah, dan tamu undangan. Menurut Menhut, hutan harus segera diselamatkan.

"Kita sudah melakukan operasi `illegal logging berulang-ulang, dan kita cari tahu apa virus yang menggerogoti hutan kita ini. (Virusnya, red) ya cukong itu," katanya. Pemerintah, kata dia, tidak akan kompromi dengan para pencuri kayu di hutan negara dan perdagangan kayu gelap.

Ia mengatakan, siapa pun yang terlibat dalam pencurian kayu hutan negara harus dihukum setelah melalui proses pengadilan. "Itu juga diawali dari dalam Perum Perhutani sendiri. Saya tegaskan, kalau di dalam Perum Perhutani ada benalu-benalu maka harus disingkirkan terlebih dahulu, karena banalu itu merusak dan saya tidak ingin di Perum Perhutani ada benalu-benalu itu," katanya.

Dijelaskan, sepak terjang cukong-cukong kayu selama ini cukup meresahkan dan mebuat negara mengalami kerugian yang amat besar.

"Ini tugas polisi dan jaksa yang harus menangkap para cukong itu. Sekarang ini pihak Kehutanan dengan Kapolri bertekad untuk tahun 2006 ini kejahatan `illegal logging` sudah tidak ada lagi di negara indonesia," ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh kalah dengan cukong-cukong itu, dan jangan mau pegawai Perum Perhutani dirayu oleh para cukong itu. Sebab kalau mereka mau resikonya besar.

Ia mengatakan, gencarnya operasi "illegal logging" karena pemerintah ingin merevitalisasi industri kehutanan kembali.

"Kita punya banyak industri, namun sekarang ini banyak yang bangkrut dan tutup. Ketika ditanya penyebabnya tidak ada bahan baku, bayangkan negara yang punya hutan luasnya 120 juta hektare menjawab pabrik tidak bekerja karena tidak mempunyai bahan baku. Itu sama halnya ayam mati dalam lumbung," katanya.

Malaysia lanjut dia, tidak mempunyai hutan seluas Indonesia, tapi industri kayunya jalan terus, dan Cina juga tidak punya hutan seluas Indonesia mengapa industrinya bisa hidup terus.

"Jadi kita senang melihat orang lain sukses daripada kita sendiri, bayangkan kita punya kayu merbau dari Papua banyak yang dicuri. Diawal dilantik jadi menteri ada informasi terjadi pencurian kayu di Papua secara besar-besaran, dan dilaporkan pula di Papua ada 1200 buldoser tanpa izin" katanya.

Ia mengatakan, kalau satu hari pencuri-pencuri kayu itu merambah dua hektare saja berarti per hari 2400 hektare kayu yang hilang. Dan berapa kayu merbau dihargai oleh para cukong pencuri pada masyarakat hanya Rp150 ribu/kubik, tapi di Cina harga per kubik Rp35 juta sedangkan industri pengolahan kayu di China menyerap 600 ribu tenaga kerja.

"Kita ingin membangun industri kehutanan. Caranya hutan harus kita selamatkan dulu. Kita akan menyuplai ke industri-industri yang mempunyai kayu legal," katanya. (*/erl)