"Mereka tinggal dirawa-rawa tidak jauh dari lokasi penambangan, sementara nyamuk berkembang biak disana," kata petugas surveilence Dinas Kesehatan Propinsi Bangka Belitung, M. Hendri SKM, Minggu.
Laporan tentang adanya sekitar 165 orang penambang yang terkena malaria itu cepat ditindaklanjuti. Petugas memberikan obat-obat anti malaria kepada penderita dan sebagian besar kini sudah sembuh.
Penambang timah apung serta timah inkonvensional sangat rawan terkena malaria. Selain lokasi tambang yang seringkali meninggalkan kolam-kolam menganga sehingga nyamuk malaria mudah berkembang biak, penambang juga terkadang kurang memperhatikan asupan gizi dan waktu istirahatnya.
Hendri yang langsung kelokasi tambang dan memberikan obat-obatan menyatakan, terkadang, penambang yang positif terkena malaria dan mendapatkan obat untuk satu minggu hanya mengkonsumsi selama dua hari karena menilai penyakitnya sudah sembuh.
"Sikap seperti itu malah menyebabkan tubuh resistan terhadap obat-obat malaria dan ketika penyakitnya kumat, maka proses penyembuhan lebih rumit," ujarnya.
Dalam mengatasi berjangkitnya malaria termasuk dilokasi-lokasi tambang, aparat Dinas Kesehatan akan melaksanakan penyemprotan dinding rumah dengan insektisida serta program kelambunisasi.
Untuk program pemberian bantuan kelambu tahun 2006 disediakan sebanyak masing-masing 150 buah kelambu bagi penduduk yang bertempat tinggal dilokasi-lokasi rawan malaria, di enam kabupaten dan satu kota.
Kegiatan pengobatan massal juga sudah dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan darah bagi ratusan warga serta penderita positif malaria langsung diberi obat-obatan untuk proses penyembuhannya.
Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Bangka Belitung menyebutkan korban meninggal akibat malaria tahun 2005 sebanyak 12 orang, terbanyak di Kab. Bangka yaitu 11 orang. Dari 981.573 orang penduduk propinsi "serumpun sebalai" itu penderita malaria klinis mencapai 36.901 orang. (*/erl)