"Tak bisa dipercaya, dampak HIV dan AIDS pada anak-anak masih diabaikan," kata seorang pemimpin organisasi itu, Jasmine Whitbread, dalam sebuah pernyataan.
Organisasi bantuan itu mengatakan dalam sebuah laporan, kurangnya fasilitas pengujian berarti banyak ibu, khususnya di negara-negara miskin, tidak tahu mereka terkena HIV sampai mereka sakit dan tidak bisa melawan penyakit itu bahkan meski hanya infeksi sederhana.
"Pandemik AIDS telah merampok masa kecil jutaan anak serta ibu mereka," kata Whitbread. "Anak-anak merawat ibu mereka, kehilangan sekolah, dan terpaksa bekerja karena ibu mereka terlalu sakit untuk bisa menjaga mereka."
Organisasi itu meminta perhatian dipusatkan pada anak-anak yang menjadi yatim karena AIDS serta orang-tua yang sakit, dan birokrasi memperlambat arus bantuan.
"Donor harus menghabiskan 12 persen dari dana AIDS mereka pada bantuan yang layak bagi anak-anak," katanya, dengan menambahkan bahwa jumlah itu akan mencapai 6,4 milyar dolar. Organisasi itu tidak menyebutkan jumlah bantuan saat ini bagi anak-anak yang terkena dampak AIDS.
Badan bantuan tersebut menujukan permohonannya itu kepada negara-negara kaya G8, Dana Global untuk Pemberantasan AIDS, TBC dan Malaria, Bank Dunia serta Komisi Eropa.
Kawasan Sahara Afrika memiliki sekitar 10 persen dari penduduk dunia namun 60 persen penduduk yang tinggal di sana terkena HIV/AIDS.
Lebih dari tiga juta orang Afrika terjangkit HIV pada 2005, mewakili 64 persen dari seluruh orang yang terjangkit di dunia dan jumlah itu lebih besar dari pada tahun-tahun sebelumnya di benua yang miskin itu, kata UNAIDS, badan PBB yang memerangi AIDS.
Di Sahara Afrika, sekitar 4,6 persen wanita muda yang berusia 15 hingga 24 tahun terjangkit HIV, sementara pria muda yang terserang mencapai 1,7 persen, menurut data PBB.
Organisasi Selamatkan Anak-anak menyatakan, sebagian besar dari 19,2 juta wanita yang terjangkit HIV di seluruh dunia sudah bestatus ibu. (*/rit)