"Kominfo harus arif betul, jangan memprovokasi," kata Agung Laksono di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis.
Agung mendesak pemerintah cepat dan tegas menyikapi penerbitan majalah tersebut agar persoalannya tidak melebar.
Agung juga mengingatkan agar semua pihak tidak bertindak anarkis dalam menyikapi hal ini. "Jangan pakai kekerasan," katanya.
Agung berharap kekerasan yang telah ada dalam menyikapi majalah ini harus diselidiki dan diusut tuntas. "Kita tidak ingin ada kekerasan," katanya.
Namun Agung menilai polisi kurang tegas dalam mengatasi reaksi publik sehingga terjadi tindak kekerasan.
"Kita berharap polisi segera lakukan penyelidikan. Saya kira polisi kurang tegas. Polisi perlu cepat ambil tindakan. Kalau kemarin (aksi FPI-red.) sampai ada korban jiwa bagaimana," katanya.
Dia menyayangkan penerbit tidak memperhatikan reaksi publik kendati penerbitan suatu majalah diatur undang-undang.
Mengenai isi majalah itu, Agung mengatakan, ia belum membacanya. "Saya belum membaca. Baru baca di media," katanya.
Hari Rabu (12/4), sejumlah warga yang menamakan diri Front Pembela Islam (FPI) berdemonstrasi di depan kantor majalah Playboy Indonesia di Gedung AAF, Jalan Simatupang, Jakarta.
Kaca bagian depan gedung itu rusak dan pecah dalam aksi massa yang memprotes terbitnya edisi perdana majalah tersebut. (*/rit)