"Segala ketertinggalan dari masyarakat Melayu harus kita kejar, masyarakat Melayu kedepan adalah masyarakat Melayu yang menjadi tuan rumah di negerinya sendiri," ujar gubernur di Pekanbaru, Sabtu dalam pertemuan Lembaga Adat Melayu (LAM) Se Sumatera.
Menurut gubernur lagi, kebangkitan masyarakat Melayu harus segera dilakukan, seperti yang dilakukan masyarakat Melayu di negara tetangga Malaysia.
Segala tatanan kehidupan baik ditingkat politik, ekonomis bisnis dan sebagainya masyarakat Melayu harus bisa mengusainya, sebab dengan demikian masyarakat Melayu akan bisa maju dan bersaing dengan suku dan ras lainnya.
Riau sendiri dengan visi 2020-nya sudah bertekad bulat menjadi daerah ini sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. "Visi ini bukan hal yang mustahil, asal kita kompak dan bersatu, visi itu akan bisa terwujud," ujarnya.
Ditambahkannya, dalam sejarah, masyarakat Melayu memberikan peran yang sangat penting dalam berbagai hal pada suatu ketika dulu, salah satunya adalah pada bahasa.
"Saya kira sumbangan yang cukup berarti masyarakat Melayu terhadap bangsa ini adalah bahasa, dengan bahasa Melayu ternyata kawasan nusantara ini bisa disatukan, ini sungguh hal yang sangat luar biasa," ujarnya lagi.
Karenanya, gubernur mengajak seluruh lapisan masyarakat Melayu dimanapun berada untuk bangkit secara bersama-sama mengangkat harkat dan martabat masyarakat Melayu.
Sementara ketua harian LAM Riau Azali Johan SH mengungkapkan, dalam pertemuan ini pihaknya akan menggagas pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) LAM Se Sumatera.
Sekber ini nantinya akan bisa digunakan untuk membahas berbagai hal terutama tentang hak adat dan hak ulayat.
Menurut dia, untuk langkah awal ini pihaknya akan berusaha membuat Peraturan Daerah (Perda) yang khusus mengatur tentang hak ulayat masyarakat adat.
"Sebagai langkah awal kita membentuk tim asistensi dan advokasi LAM Riau," ujarnya.
Tim ini nantinya akan membantu berbagai hal tentang permasalahan yang dihadapi masyarakat adat di daerah ini. "Terutama sekali terkait dengan hak ulayat," ujarnya lagi.
Pertemuan LAM Se Sumatera ini diikuti utusan dari 10 provinsi Se Sumatera diantaranya dari Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau (Kepri) dan sebagainya. Pertemuan ini akan berlangsung dari tanggal 15-17 April 2006 mendatang. (*/cax)