"Kami berpegang teguh pada AD/ART. Dalam anggaran rumah tangga pasal 49 dengan jelas disebutkan kalau warna Musda ditentukan oleh peserta," ujar Anas ketika menjawab salah seorang peserta Silaturahmi Korwil Dengan DPD dan DPC PD se-Jatim di Surabaya, Sabtu.
Peserta Musda yang mempunyai hak suara, ujar mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut, terdiri dari 40 orang masing-masing 38 orang dari DPC, satu orang dari DPD dan satu orang dari DPP.
Pada kesempatan tanya jawab, salah seorang peserta dari Ketua DPC PD Batu, Andriek, memprotes sikap salah seorang anggota DPP PD yang melakukan gerilya dukungan terhadap calon tertentu agar bisa menjadi Ketua PD Jatim.
"DPP itu kolektif, tidak boleh melakukan dukung-mendukung, apalagi calon tersebut berasal dari luar Partai Demokrat. Mohon Pak Anas memberikan teguran kepada yang bersangkutan," katanya.
Musda PD Jatim yang dijadwalkan di Surabaya awal Mei mendatang telah diramaikan adanya sejumlah calon yang bakal maju sebagai kandidat ketua yakni Suhartono (Sekretaris PD Jatim), Marcus Silano (ketua sekarang), Fandi Utomo (Mantan Ketua Tim Sukses SBY-Kalla di Jatim) dan Abdul Hamid Mahmud (mantan Wagub Jatim).
Anas menjelaskan, DPP hanya mempunyai satu suara dalam Musda sehingga tidak bisa melakukan intervensi apapun. "Yang memberi warna ya 40 peserta itu," tegasnya.
Mantan Ketua Umum PB HMI ini juga membantah kalau DPP telah memaksakan kepada peserta Musda agar mendukung calon tertentu sebagaimana isu yang berkembang. "Ndak ada dukung-dukungan," katanya.
Tentang mundurnya pelaksanaan Musda yang berulang kali, dia mengatakan agar pelaksanaan Musda bisa lebih matang.
Sementara saat memberikan sambutan, dia mengatakan Jatim sangat strategis bagi PD. Jika perolehan suara PD di Jatim besar, akan memberikan kontribusi terhadap suara nasional dan sebaliknya.
"Ketua Umum Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, walau milik nasional tetap dari Jatim. Kalau Partai Demokrat tidak sukses di Jatim, tentu akan menjadi beban," katanya. (*/erl)