< >

Warga Kesulitan Tangkap Tanda-tanda Letusan Merapi

Senin, 17 April 2006 22:07
Kapanlagi.com - Masyarakat Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang di kawasan lereng Barat Gunung Merapi (2.911 dpl) mengalami kesulitan menangkap berbagai tanda alam menjelang letusan gunung berapi itu.

"Sekarang warga sulit, kalau dulu tampak lava pijar tetapi yang sekarang belum terlihat sehingga warga bingung," kata Kepala Desa Ngargomulyo Tumat Martoyo di Magelang, Senin, ketika menjelaskan kepada Bupati Singgih Sanyoto, Danrem 072 Pamungkas Kol Czi Langgeng Sulityono dan Kapolwil Kedu Kombes Pol Isdiyono tentang kesiapan masyarakat menghadapi bencana Merapi.

Desa Ngargomulyo terdiri 11 dusun dengan penduduk 2.478 jiwa atau sekitar 700 kepala keluarga terletak lima kilometer dari puncak Merapi.

Sedangkan hewan hutan Merapi seperti harimau, babi hutan dan kijang yang biasa turun menjelang letusan, katanya, hingga saat ini belum terlihat turun.

"Masih ada hewan di atas, mungkin karena lava pijar belum terlihat sehingga panasnya tidak keluar, kalau terasa panas di atas biasanya hewan turun," katanya.

Status aktivitas vulkanik Merapi mengalami peningkatan sehingga pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menaikan dari Waspada menjadi Siaga Merapi sejak 12 April 2006. Status Merapi terdiri Aktif Normal, Waspada, Siaga dan Awas Merapi.

Aparat desa setempat, katanya, merasa kesulitan meyakinkan masyarakat terkait kondisi Merapi.

Bupati Singgih mengatakan, aparat memang harus telaten dan sabar memberikan penjelasan tentang tanda-tanda ilmiah dari BPPTK tentang kemungkinan letusan Merapi.

"Itu perlu waktu, tidak bisa mudah mengubah persepsi masyarakat tentang bahaya merapi, tetapi kearifan lokal memang menjadikan masyarakat tidak panik, tetapi itu memang bahaya kalau lengah karena kita tidak tahu bagaimana letusan gunung ini," katanya.

Menurut dia, masyarakat sekitar Merapi memang masih terlihat tenang menghadapi kemungkinan bahaya Merapi.

Jumlah penduduk sekitar Merapi yang berada di daerah paling rawan bencana 29.413 jiwa tersebar di 21 desa dari tiga kecamatan yakni Dukun, Srumbung dan Sawangan. Merapi meletus terakhir Februari 2001 dengan menyemburkan awan panas. Lima tahun terakhir tidak terjadi peningkatan aktivitas vulkaniknya.

Berdasarkan pengalaman, katanya, seribu tahun lalu Merapi meletus dalam skala besar. Letusan besar juga terjadi Tahun 1954 dan 1961.

"Ini menjadi bahan upaya kita memberikan penjelasan kepada masyarakat, kita terus sosialisasikan, apalagi telah lima tahun tidak meletus dan sampai sekarang juga belum ada tanda-tanda guguran lava pijar," katanya.

Ia mengatakan, BPPTK telah menyampaikan informasi bahwa bagian puncak Merapi yang mengarah ke Selatan mengalami rekahan hingga tiga meter dan ke arah Utara tiga sentimeter serta ke arah Timur 2,5 sentimeter. Besarnya rekahan kawah Merapi tidak bisa menjadi patokan arah letusan Merapi.

Wiwik Riyani, warga Desa Babadan Dukun mengaku telah mengetahui adanya informasi dari pihak terkait tentang perlunya masyarakat menyiapkan mengungsi menyusul peningkatan status aktivitas vulkanik Merapi.

"Tetapi kami tidak mengungsi, kami pasrah, kalau ada awan panas turun baru kami mau mengungsi," katanya.

Tempat penampungan pengungsian yang telah disiapkan Pemda setempat sebanyak 68 tempat terdiri Tempat Penampungan Sementara (TPS) I 28 tempat, TPS II 20 tempat dan Tempat Penampungan Akhir (TPA) 20 tempat. Tempat pengungsian itu antara lain gedung sekolah dan balai desa serta gedung pemerintah dan swasta lainnya, sedangkan TPA utama di Tanjung dan Pucung Rejo Kecamatan Muntilan.

Sedangkan pemilik warung di areal penambangan pasir Jurang Jero yang juga warga Srumbung Nurul mengatakan, masyarakat setempat pernah dikumpulkan di mushala dan balai desa untuk mendapatkan pengarahan aparat tentang skenario pengungsian jika sewaktu-waktu Merapi meletus.

Berdasarkan pantauan di kawasan penambangan Kali Putih, Jurang Jero, sejumlah truk masih terlihat mengangkut pasir dari material yang dikeruk warga secara manual. Sedangkan penambangan menggunakan eskavator sudah tidak terlihat di kawasan tersebut.

Kasi Gunung Merapi BPPTK Subandriyo mengatakan, pihaknya sudah meminta kepada aparat pemda setempat untuk menghentikan penambangan di Kali Putih, Sat, Senowo, Apu, Trising, Woro, Gendol, Boyong dan Krasak.

Sedangkan asap solvatara yang keluar dari puncak Merapi membumbung tinggi hingga sekitar seratus meter, lava pijar belum tampak, titik api diam di puncak juta berlum terlihat.

Gempa multiphase tercatat 121 kali, guguran material dari puncak sembilan kali, gempa frekuensi rendah dan gempa tektonik masing-masing satu kali. (*/lpk)